EraAIdailyNews, 21 September 2026 — Para peneliti di UCLA mengembangkan sebuah metode untuk memperkirakan suhu tubuh hewan purba dari gigi yang telah menjadi fosil. Metode itu kemudian diterapkan pada spesimen yang disimpan oleh Natural History Museum of Los Angeles County. Hasilnya menunjukkan bahwa T. rex mempertahankan suhu tubuh sekitar 97 derajat Fahrenheit, atau 36 derajat Celsius, sangat dekat dengan suhu tubuh manusia.
Selama lebih dari seabad, ilmuwan berupaya merekonstruksi biologi T. rex dari tulang, gigi, jejak kaki, dan jejak lain yang ditinggalkan lebih dari 60 juta tahun lalu. Fosil yang ditemukan hingga Alaska menunjukkan hewan ini dapat mentoleransi hawa dingin dan semakin menguatkan dugaan bahwa tyrannosaurus memiliki metabolisme yang bergeser dari pola banyak reptil berdarah dingin menuju kondisi seperti burung. Studi yang diterbitkan 16 September dalam Science Advances memberikan pengukuran suhu pertama bagi hewan tersebut.
Rahasia pengukuran ini tersimpan dalam ikatan kimia mikroskopis pada email gigi. Isotop langka karbon dan oksigen dapat saling berikatan di dalam email tersebut. Seberapa sering ikatan terbentuk bergantung sebagian pada suhu: kondisi lebih dingin menghasilkan lebih banyak ikatan, sedangkan suhu lebih hangat menghasilkan lebih sedikit. Dengan membaca tanda kimia yang tersisa pada gigi fosil, peneliti dapat memperlakukannya sebagai termometer purba. Secara teori, metode ini dapat memakai berbagai bagian rangka, tetapi email gigi menawarkan catatan yang sangat tahan lama.
Menurut Robert Eagle, geobiolog UCLA dan salah satu penulis studi, email gigi memiliki struktur kristal besar yang sangat tahan. Bagian ini lebih sulit mengalami perubahan kimiawi akibat lingkungan selama jutaan tahun dibandingkan bagian rangka lain. Sementara itu, tulang terus mengalami remodeling, larut, dan diganti sepanjang hidup hewan. Ketahanan email menjadikan gigi pilihan utama untuk menyimpan sinyal suhu tubuh yang ingin dibaca kembali oleh peneliti.
Dalam pengukuran ini, Eagle dan penulis utama Randy Flores menggunakan bor gigi untuk mengambil email dari fosil. Email yang sudah menjadi serbuk kemudian dilarutkan dalam asam fosfat sehingga melepaskan gas karbon dioksida yang membawa ikatan isotop target. Spektrometer massa digunakan untuk mengukur rasio isotop dalam gas tersebut. Peneliti juga menekan gas agar alirannya lebih padat, sehingga instrumen memperoleh hasil yang dapat digunakan dari sampel fosil jauh lebih kecil. Penyempurnaan inilah yang membedakan upaya terbaru dari versi metode sekitar satu dekade sebelumnya.
Versi awal membutuhkan material fosil dalam jumlah yang tidak wajar untuk dikorbankan dari spesimen penting dan tak tergantikan. Selama dekade berikutnya, tim UCLA memangkas kebutuhan material uji gigi purba sekitar 90 persen. Perubahan itu meyakinkan Natural History Museum of Los Angeles County untuk memberikan bagian kecil dari dua gigi Thomas the T. rex, kerangka tyrannosaurus paling lengkap yang dipamerkan di aula dinosaurus museum. Bagian yang diambil berasal dari gigi yang tidak ditampilkan kepada publik.
Thomas the T. rex ditemukan melalui ekskavasi di Hell Creek, Montana. Situs yang sama juga menghasilkan fosil crocodilian purba yang kemudian dianalisis sebagai pembanding. Pengukuran terhadap hewan mirip buaya itu menghasilkan suhu sekitar 30 derajat Celsius, jauh lebih rendah daripada 36 derajat Celsius milik T. rex. Perbedaan tajam tersebut penting karena proses geologi di lokasi fosil diperkirakan akan memengaruhi kedua hewan secara serupa. Hasil yang berbeda justru menguatkan bahwa sinyal kimia merekam perbedaan biologis asli antarspesies.
Angka 36 derajat Celsius, atau 97 derajat Fahrenheit, menempatkan T. rex pada posisi yang menarik. Dinosaurus ini tetap reptil bersisik dan bertelur, tetapi suhu tubuhnya jauh lebih dekat dengan mamalia berdarah panas daripada reptil modern. Eagle menyebut suhu itu lebih tinggi daripada reptil atau mamalia lambat seperti sloth, tetapi lebih rendah daripada burung. Reptil berdarah dingin masa kini umumnya berada pada 28–30 derajat Celsius, sedangkan sebagian besar burung memiliki 40–43 derajat Celsius.
Secara biologis, angka tersebut mendukung gambaran T. rex sebagai pemangsa atau pemakan bangkai yang aktif, bukan hewan lamban yang sangat bergantung pada berjemur di bawah matahari. Kemampuan menghasilkan dan mengatur panas internal memungkinkan hewan itu mempertahankan aktivitas sambil berburu atau mencari bangkai dalam jumlah cukup untuk menopang metabolisme relatif cepat. Dengan kata lain, suhu tubuh bukan sekadar detail fisiologi, melainkan petunjuk tentang seberapa lincah dinosaurus ini mungkin bergerak dan memperoleh makanan.
Keuntungan lain adalah akses ke lingkungan dingin. T. rex hidup pada Periode Kapur, ketika iklim Bumi sekitar 11–25 derajat Fahrenheit lebih panas daripada kondisi modern. Kendati demikian, musim dingin di Alaska kuno tetap sangat menantang bagi dinosaurus berdarah dingin. Catatan fosil pun sejalan dengan kesimpulan itu: peneliti belum menemukan fosil kadal, kura-kura, buaya, atau reptil lain dari Alaska masa Kapur, sementara fosil Tyrannosaurus ditemukan di sana. Dengan bantuan model paleoiklim, tim merekonstruksi wilayah di Amerika Utara 66 juta tahun lalu yang membentang dari Meksiko hingga Alaska sebagai area yang secara teori dapat dihuni T. rex dengan suhu tubuh 97 derajat Fahrenheit.
Temuan ini juga membantu ilmuwan menempatkan tyrannosaurus pada jalur evolusi yang akhirnya menghasilkan burung modern, hewan yang suhu tubuhnya umumnya lebih tinggi. Di sisi lain, penggunaan fosil terkenal tetap memerlukan pertimbangan etis. Setiap pengeboran atau pengambilan sampel mengubah benda yang tidak dapat diganti secara permanen. Museum menilai teknologi baru mampu menghasilkan pengetahuan penting dengan kerusakan sangat kecil, sehingga pengorbanan dua bagian gigi dianggap sepadan. Penelitian ini didukung sebagian oleh hibah National Science Foundation.
Sumber: ScienceDaily, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar