Indeks kualitas udara Jakarta tercatat berada di angka 113 pada Sabtu pagi, masuk kategori tidak sehat dan menempatkannya di peringkat 10 besar terburuk dunia. Warga diminta memakai masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Kualitas udara di Jakarta kembali mencatat angka yang mengkhawatirkan pada Sabtu pagi. Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara atau AQI di Jakarta berada di angka 113. Angka itu menempatkan Jakarta dalam kategori tidak sehat.
Posisi tersebut sekaligus memasukkan Jakarta ke dalam daftar 10 besar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada periode pemantauan itu. Kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif berarti kualitas udara dapat merugikan manusia maupun hewan yang sensitif. Selain itu, kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan kerusakan pada tumbuhan dan menurunkan nilai estetika lingkungan.
Dalam klasifikasi yang dipakai, kategori sedang berada pada rentang PM2,5 sebesar 51 hingga 100. Pada kategori itu, kualitas udara tidak berpengaruh pada kesehatan manusia maupun hewan, tetapi berpengaruh pada tumbuhan sensitif dan nilai estetika. Adapun kategori baik berada pada rentang PM2,5 sebesar 0 sampai 50.
Pada rentang 0 sampai 50, kualitas udara dinilai tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia maupun hewan. Kondisi itu juga tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan, maupun nilai estetika kawasan. Sebaliknya, kategori sangat tidak sehat berada pada rentang PM2,5 sebesar 200 hingga 299 dan dapat merugikan kesehatan sejumlah segmen populasi yang terpapar.
Kategori terberat adalah kategori berbahaya dengan rentang 300 hingga 500. Pada tingkat itu, kualitas udara secara umum dapat merugikan kesehatan secara serius bagi seluruh populasi yang terpapar. Klasifikasi bertingkat itu menjadi rujukan untuk menentukan langkah perlindungan bagi warga.
Pada pemantauan yang sama, kota dengan kualitas udara terburuk pertama adalah Kinshasa dengan angka 177. Posisi kedua ditempati Lahore dengan angka 175, sedangkan urutan ketiga adalah Kampala dengan angka 170. Ketiga kota itu mencatat angka jauh di atas kategori sedang.
Selanjutnya, urutan keempat ditempati Dubai dengan angka 162. Urutan kelima adalah Doha dengan angka 129, dan urutan keenam adalah Dhaka dengan angka 121. Adapun urutan ketujuh dan kedelapan ditempati Tel Aviv-Yafo serta Hangzhou yang sama-sama mencatat angka 116.
Sementara itu, urutan kesembilan ditempati Singapura dengan angka 115. Dengan angka 113, Jakarta berada pada posisi setelahnya dalam daftar tersebut. Rentang angka yang berdekatan itu menunjukkan kualitas udara di sejumlah kota besar Asia dan Timur Tengah sedang berada pada kondisi kurang baik pada periode pengukuran.
Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat disarankan mengambil langkah perlindungan sederhana. Warga dianjurkan memakai masker saat keluar rumah. Selain itu, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi, jendela rumah ditutup untuk menghindari udara luar yang kotor, serta penyaring udara dinyalakan bila tersedia.
Langkah-langkah itu bersifat praktis dan bisa dilakukan setiap rumah tangga. Masker membantu menyaring partikel halus yang masuk ke saluran pernapasan. Menutup jendela mengurangi jumlah udara luar yang masuk ke dalam ruangan, sementara penyaring udara membantu menurunkan konsentrasi partikel di dalam ruangan tertutup.
Persoalan polusi udara di Jakarta sendiri bukan hal baru. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup telah menambah dua mobil kabut air sebagai salah satu upaya menekan polusi udara pada 2024. Kendaraan itu menyemprotkan air untuk membantu menurunkan partikel di udara pada lokasi tertentu.
Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mendapat sokongan dana dari Clean Air Fund. Dukungan itu diberikan melalui program bernama Breathe Jakarta. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas udara di ibu kota melalui serangkaian kegiatan pemantauan dan intervensi.
Kondisi udara Jakarta tercatat berfluktuasi dari hari ke hari. Pemantauan sebelumnya menunjukkan kualitas udara Jakarta sempat berada pada posisi terburuk kelima di dunia pada Kamis, dan kembali dalam kategori tidak sehat pada Jumat pagi. Pola itu menunjukkan perubahan kondisi udara dapat terjadi dalam rentang waktu singkat.
Fluktuasi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang saling berkaitan. Di antaranya volume lalu lintas kendaraan bermotor, kondisi angin, kelembapan udara, serta keberadaan sumber polusi di sekitar wilayah pemantauan. Karena itu, angka indeks dapat berbeda antara pagi, siang, dan malam pada hari yang sama.
Bagi kelompok rentan, dampak polusi udara perlu diperhatikan lebih serius. Anak-anak, lansia, serta orang dengan riwayat gangguan pernapasan dan jantung lebih berisiko mengalami keluhan. Kelompok itu dianjurkan lebih membatasi waktu berada di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Pemantauan kualitas udara publik memungkinkan warga menyesuaikan aktivitas harian. Data indeks harian dapat dijadikan pertimbangan sebelum berolahraga di luar ruangan, membuka jendela, atau melakukan perjalanan dengan kendaraan terbuka. Kebiasaan kecil semacam itu berpengaruh pada tingkat paparan harian setiap orang.
Dari sisi kebijakan, penanganan polusi udara memerlukan pendekatan berkelanjutan. Langkah jangka pendek seperti penyemprotan air bersifat sementara, sementara perbaikan mutu bahan bakar, pengelolaan transportasi, serta penambahan ruang terbuka hijau menyasar sumber masalah dalam jangka panjang. Kombinasi keduanya dinilai dibutuhkan agar perbaikan tidak hanya sesaat.
Bagi warga Jakarta, kondisi udara pada Sabtu pagi itu menjadi pengingat bahwa persoalan kualitas udara belum selesai. Angka indeks yang masuk kategori tidak sehat menuntut kewaspadaan, terutama bagi kelompok paling rentan. Pemantauan yang dilakukan harian membantu memastikan langkah perlindungan diambil pada waktu yang tepat.
Sumber: ANTARA, 26 September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar