Pasukan Pemberontak Etiopia Memulai Serangan, Perang Saudara Kembali Mengancam

Pasukan Pemberontak Etiopia Memulai Serangan, Perang Saudara Kembali Mengancam

Pasukan pemberontak Front Pembebasan Rakyat Tigray memulai serangan baru terhadap tentara Etiopia. Komunitas internasional khawatir konflik berskala penuh kembali pecah setelah gencatan senjata 2022.

Kekhawatiran terhadap kembalinya perang saudara di Etiopia meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Pasukan pemberontak Front Pembebasan Rakyat Tigray dilaporkan telah memulai serangan terhadap posisi tentara pemerintah Etiopia di wilayah utara negara itu. Serangan tersebut menandai eskalasi paling serius sejak gencatan senjata ditandatangani pada November 2022.

Konflik di Tigray sebelumnya telah menewaskan ratusan ribu orang dan memaksa jutaan warga mengungsi selama dua tahun pertempuran sengit. Gencatan senjata yang ditengahi Uni Afrika pada akhir 2022 sempat membawa harapan perdamaian. Namun pelaksanaan perjanjian itu berjalan lamban dan penuh hambatan di kedua belah pihak.

Pihak pemberontak menuduh pemerintah pusat gagal memenuhi komitmen yang disepakati. Di antaranya penarikan pasukan asing dari wilayah Tigray dan pengembalian wilayah yang diduduki. Tuduhan itu dibantah oleh pemerintah Etiopia yang menyatakan telah menjalankan kewajibannya sesuai perjanjian.

Komunitas internasional menyerukan kedua belah pihak untuk menahan diri. Uni Afrika, yang memediasi gencatan senjata sebelumnya, mendesak dialog segera untuk mencegah pertumpahan darah lebih lanjut. Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa turut menyampaikan kekhawatiran atas memburuknya situasi keamanan.

Warga sipil kembali menjadi pihak yang paling terdampak. Laporan dari organisasi kemanusiaan menyebutkan ribuan warga mulai meninggalkan rumah mereka di sejumlah kota di sepanjang garis depan. Akses bagi bantuan kemanusiaan juga dilaporkan semakin terbatas sejak serangan dimulai.

Para analis menilai eskalasi ini tidak terlepas dari kegagalan proses rekonsiliasi pasca-konflik. Integrasi kembali pasukan pemberontak ke dalam militer nasional, pengembalian pengungsi, dan penuntasan pelanggaran hak asasi manusia selama perang merupakan sejumlah isu yang belum terselesaikan.

Peran aktor asing dalam konflik Etiopia juga menjadi perhatian. Sejumlah laporan sebelumnya menyebut keterlibatan pasukan dari Eritrea dan milisi Amhara di sisi pemerintah selama perang Tigray. Penarikan pasukan asing merupakan salah satu syarat utama gencatan senjata yang hingga kini belum sepenuhnya terlaksana.

Perekonomian Etiopia yang tengah berjuang pulih dari dampak konflik sebelumnya terancam kembali terpukul. Negara berpenduduk lebih dari 120 juta jiwa itu sudah menghadapi inflasi tinggi, krisis pangan di sejumlah wilayah, dan beban utang luar negeri yang signifikan. Kembalinya konflik berskala besar akan memperburuk kondisi tersebut secara drastis.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dijadwalkan membahas situasi terkini dalam sesi konsultasi tertutup. Sejumlah anggota dewan telah menyampaikan keprihatinan dan mendesak agar akses kemanusiaan dijamin oleh semua pihak yang terlibat konflik.

Di tingkat domestik, Perdana Menteri Abiy Ahmed menghadapi tekanan dari berbagai arah. Kalangan militer mendesak respons tegas terhadap serangan pemberontak, sementara kelompok masyarakat sipil dan tokoh agama menyerukan penyelesaian damai. Pilihan yang diambil dalam beberapa hari ke depan akan menentukan arah konflik selanjutnya.

Situasi di lapangan dilaporkan berubah cepat. Pasukan pemberontak dikabarkan telah merebut sejumlah pos militer strategis, sementara tentara pemerintah melakukan konsolidasi di wilayah selatan Tigray. Kedua belah pihak mengklaim berhasil memukul mundur lawan dalam pertempuran terbaru.

Lembaga hak asasi manusia internasional mendesak penyelidikan independen terhadap dugaan pelanggaran yang terjadi selama eskalasi terbaru. Mereka mengingatkan bahwa pelanggaran selama perang sebelumnya, termasuk kekerasan seksual dan pembunuhan massal, belum sepenuhnya dituntaskan secara hukum.

Bagi kawasan Tanduk Afrika, kembalinya konflik di Etiopia berpotensi menimbulkan gelombang pengungsi baru ke negara-negara tetangga. Sudan yang sudah menghadapi perang saudara sendiri, Somalia yang dilanda ketidakstabilan, serta Djibouti dan Kenya akan menanggung beban tambahan dari gelombang tersebut.

Perkembangan situasi dalam pekan-pekan mendatang akan sangat menentukan apakah Etiopia dapat menghindari kembali ke jurang perang saudara penuh atau menemukan jalan kembali ke meja perundingan. Dunia internasional terus memantau dengan cermat setiap perkembangan yang terjadi.

Ketegangan ini bermula dari pembentukan aliansi baru oleh tujuh kelompok bersenjata dari berbagai penjuru Etiopia. Aliansi yang menamakan diri Pasukan Rakyat Etiopia untuk Kelangsungan Hidup itu menyatakan tujuan utamanya menggulingkan pemerintahan di Addis Ababa. Front Pembebasan Rakyat Tigray menjadi salah satu kekuatan utama dalam koalisi tersebut.

Pada Rabu, pasukan TPLF dilaporkan mengambil alih kendali tiga bandara dari kepolisian federal. Maskapai milik negara, Ethiopian Airlines, mengumumkan penangguhan penerbangan ke wilayah tersebut dengan alasan situasi keamanan yang sedang berlangsung. Pengambilalihan bandara menandai eskalasi yang jauh melampaui bentrokan sporadis sebelumnya.

Serangan juga dilancarkan ke wilayah Afar dan Amhara yang bertetangga dengan Tigray. Sumber kemanusiaan di Afar melaporkan terjadinya serangan artileri berat di sejumlah lokasi. Warga di kedua wilayah itu mulai mengungsi ke tempat yang lebih aman meski jalur evakuasi terbatas.

Kedua pihak kini saling menuduh sebagai pemicu kembalinya konflik terbuka. Pemerintah federal menuding TPLF melanggar perjanjian gencatan senjata, sementara TPLF menuduh Addis Ababa gagal menjalankan komitmen yang disepakati. Saling tuduh itu mempersempit ruang bagi mediasi.

Sumber: The Guardian, 25 September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar