Paus Leo XIV memperingatkan dunia tentang bahaya kehilangan kemanusiaan di tengah serbuan mesin-mesin pintar. Pernyataan itu disampaikan dalam kunjungan resmi tiga hari ke Prancis, kunjungan kepausan pertama ke negara itu dalam 18 tahun.
Paus Leo XIV mengeluarkan peringatan keras tentang ancaman kecerdasan buatan terhadap kemanusiaan saat memulai kunjungan resmi tiga hari ke Prancis. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato di Istana Elysée, yang menjadi pembuka rangkaian kunjungan kepausan pertama ke Prancis dalam 18 tahun terakhir.
Dalam pidatonya, Paus berusia 71 tahun itu menyatakan bahwa dunia berisiko kehilangan kemanusiaan di tengah surga mesin-mesin yang menyerbu dan mengatur kehidupan sehari-hari. Ia menyerukan agar masyarakat dididik dalam penilaian etis yang mampu membedakan apa yang secara moral benar.
Pernyataan kedua disampaikan di hadapan pertemuan di markas besar UNESCO di Paris. Paus menegaskan bahwa teknologi baru harus tetap berada di pelayanan manusia, bukan menjadi alat dominasi dan ketidakadilan tambahan. Ia memperingatkan bahwa sains berisiko kehilangan makna ketika dikejar tanpa pertimbangan etika.
Paus mengkritik penggunaan istilah kecerdasan untuk sistem komputasi. Menurutnya, gagasan dan hubungan antarmanusia berisiko miskin akibat proses dehumanisasi. Sementara kecerdasan dilekatkan pada sistem komputasi, martabat manusia yang tidak dapat dicabut justru sulit diakui ketika kehidupan dinilai berdasarkan kriteria efisiensi.
Dalam konteks yang lebih luas, Paus juga mengkritik pemimpin dunia yang tidak menghormati supremasi hukum. Meski tidak menyebut nama secara langsung, pernyataan itu dianggap merujuk pada tren global yang mengkhawatirkan terkait otoritarianisme dan pelemahan lembaga demokratis.
Kunjungan ke Prancis ini dipandang sebagai momen penting bagi diplomasi kepausan. Prancis, sebagai salah satu negara dengan tradisi sekularisme paling kuat di Eropa, menjadi tuan rumah bagi pernyataan Paus yang menempatkan isu teknologi dan etika sebagai agenda utama.
Pernyataan Paus Leo XIV tentang kecerdasan buatan menjadi sorotan utama media internasional. Pernyataan itu datang di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang dampak AI terhadap pasar kerja, privasi, keamanan, dan hubungan antarmanusia.
Selama di Paris, Paus dijadwalkan bertemu dengan Presiden Prancis, pejabat tinggi pemerintah, serta perwakilan komunitas keagamaan dan masyarakat sipil. Rangkaian pertemuan itu diarahkan untuk membahas isu-isu kemanusiaan yang menjadi perhatian bersama.
Kunjungan ini juga mencakup misa terbuka yang dihadiri ribuan umat. Momen itu menjadi kesempatan bagi Paus untuk menyampaikan pesan langsung kepada umat Katolik di Prancis yang jumlahnya mencapai jutaan orang.
Para pengamat menilai pernyataan Paus tentang AI menandai pergeseran fokus Vatikan dari isu-isu tradisional menuju tantangan teknologi kontemporer. Langkah ini sejalan dengan upaya Vatikan dalam beberapa tahun terakhir untuk tetap relevan dalam diskusi global tentang masa depan peradaban manusia.
Dalam pidato di UNESCO, Paus juga menyoroti bahwa kemajuan teknologi yang berlangsung cepat berisiko menghambat dialog alih-alih mendorongnya. Ia mengingatkan bahwa lembaga-lembaga internasional kini menghadapi krisis efektivitas karena sejumlah negara memandangnya sebagai penghalang, bahkan sekadar sandiwara.
Paus Leo juga mengkritik para pemimpin yang memperlakukan hukum secara instrumental. Menurutnya, mereka yang berkuasa mengutip hukum ketika menguntungkan kepentingan sendiri dan mengabaikannya ketika hukum justru membatasi. Ia menyebut keadilan diperlakukan seolah barang yang bisa dibeli dan dijual.
Dalam rangkaian kunjungan itu, Paus menyerukan pelarangan senjata nuklir karena hanya memberi rasa aman yang keliru. Ia juga menyampaikan kritik terhadap praktik bantuan kematian, beberapa bulan setelah Prancis mengesahkan aturan tersebut. Kedua pernyataan itu menegaskan posisi Vatikan pada isu etika kehidupan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut Paus di Istana Elysée dan menegaskan bahwa sekularisme Prancis bukan berarti penolakan terhadap agama. Belasan lonceng gereja di seluruh Prancis dibunyikan untuk menandai kedatangan Paus, sementara ribuan umat menantikan misa terbuka pada akhir pekan.
Rangkaian kunjungan tiga hari ini mencakup pertemuan dengan pejabat pemerintah, perwakilan komunitas keagamaan, dan masyarakat sipil. Agenda utamanya menempatkan kecerdasan buatan, masa depan Eropa, serta martabat manusia sebagai pokok pembahasan.
Kunjungan Paus ke Prancis berlangsung selama tiga hari dan mencakup sejumlah agenda penting. Selain pidato di Istana Elysée dan UNESCO, Paus dijadwalkan memimpin misa terbuka yang dihadiri ribuan umat Katolik. Lonceng gereja di berbagai kota dibunyikan untuk menandai kedatangan pemimpin tertinggi gereja Katolik sedunia itu.
Pernyataan Paus tentang keadilan dan supremasi hukum mendapat perhatian luas. Menurutnya, kekuasaan sering kali mengutip aturan ketika menguntungkan dan mengabaikannya ketika membatasi. Ia mengingatkan bahwa keadilan tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas yang dapat dibeli dan dijual.
Selain isu kecerdasan buatan, Paus menyentuh sejumlah persoalan etika lain. Ia menyerukan pelarangan senjata nuklir karena hanya memberi rasa aman yang keliru. Ia juga mengkritik praktik bantuan kematian, beberapa bulan setelah Prancis mengesahkan aturan tersebut menjadi hukum.
Presiden Prancis menyambut Paus dengan menegaskan bahwa sekularisme negaranya bukan berarti penolakan terhadap agama. Pernyataan itu penting dalam konteks hubungan negara dan gereja di Prancis yang telah lama menjadi topik sensitif. Keduanya menekankan pentingnya dialog lintas keyakinan.
Kunjungan kepausan ini menjadi yang pertama ke Prancis dalam 18 tahun terakhir. Momen tersebut dinilai penting bagi diplomasi Vatikan di Eropa yang tengah menghadapi tantangan politik, ekonomi, dan teknologi. Isu kecerdasan buatan ditempatkan sebagai salah satu pokok pembahasan utama.
Sumber: The Guardian, 25 September 2026.

Tidak ada komentar
Posting Komentar