Aleksandar Vucic mengundurkan diri dari jabatan presiden Serbia untuk mencalonkan diri sebagai perdana menteri pada pemilu cepat 25 Oktober, setelah hampir dua tahun gelombang protes antikorupsi.
Presiden Serbia, Aleksandar Vucic, mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan presiden pada Minggu (27/9/2026) untuk mencalonkan diri sebagai perdana menteri pada pemilu parlemen cepat yang dijadwalkan 25 Oktober. Pengumuman itu disampaikan dari istana kepresidenan di Belgrade di hadapan pendukungnya. Ia menyatakan akan menyerahkan tugasnya kepada ketua parlemen keesokan paginya.
Dalam pidatonya, Vucic menyampaikan bahwa ia telah mengabdi dengan setia kepada seluruh warga dan tanah air Serbia selama masa jabatan kepresidenannya. Ia menambahkan bahwa pertarungan sesungguhnya baru dimulai. Konstitusi Serbia melarangnya mencalonkan diri untuk masa jabatan presiden ketiga. Ia sedang menjalani masa jabatan kedua yang seharusnya berakhir pada Mei 2027.
Dengan pengunduran diri ini, Serbia akan menyelenggarakan pemilu presiden lebih awal bersamaan dengan pemilu parlemen pada 25 Oktober. Menurut konstitusi, ketua parlemen Ana Brnabic akan menjalankan kekuasaan presiden sementara sampai kepala negara baru terpilih. Pemilu presiden harus diselesaikan dalam waktu 90 hari, dan Vucic menyebut putaran pertama akan digelar paling lambat akhir Desember.
Pemilu parlemen Oktober berlangsung hampir dua tahun setelah gelombang protes yang dipimpin mahasiswa dan kelompok antikorupsi. Protes itu dipicu oleh runtuhnya kanopi stasiun kereta di kota Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan sejumlah orang. Aksi berlanjut menuntut pertanggungjawaban pejabat atas kelalaian yang dianggap menjadi penyebab peristiwa tersebut.
Jika Partai Progresif Serbia yang dipimpin Vucic berhasil membentuk pemerintahan berikutnya, ia berpeluang melanjutkan karier politiknya sebagai perdana menteri. Langkah itu memungkinkan dirinya tetap memegang pengaruh eksekutif meski tidak lagi menempati kursi kepresidenan. Sebagian analis menilai manuver ini sebagai cara mempertahankan kendali politik di tengah tekanan publik.
Vucic berusia 56 tahun dan memiliki akar pada nasionalisme Serbia. Ia pernah menjabat menteri pada masa pemerintahan sebelumnya sebelum kemudian mendirikan dan memimpin partai yang kini berkuasa. Selama bertahun-tahun ia menyeimbangkan aspirasi keanggotaan Serbia di Uni Eropa dengan hubungan dekat ke Rusia, serta menjaga hubungan dengan Amerika Serikat dan Tiongkok.
Peta politik Serbia menjadi rumit karena oposisi terpecah dalam beberapa blok. Partai berkuasa tetap memiliki mesin organisasi yang kuat, sementara kelompok penuntut perubahan mengandalkan momentum protes jalanan. Karena itu, hasil pemilu 25 Oktober akan menentukan apakah gelombang protes berubah menjadi pergeseran kekuasaan atau justru mengukuhkan kembali kubu yang berkuasa.
Bagi kawasan Balkan, perubahan ini diperhatikan karena Serbia menjadi penghubung penting antara Uni Eropa dan Rusia. Arah kebijakan luar negeri Serbia pascapemilu akan memengaruhi dinamika kestabilan di kawasan tersebut, termasuk dalam urusan energi dan kerja sama pertahanan.
Pengunduran diri seorang presiden untuk maju sebagai calon perdana menteri jarang terjadi, tetapi memiliki preseden di berbagai negara parlementer. Dalam sistem tersebut, kekuasaan sesungguhnya berada di tangan perdana menteri, sehingga perpindahan kursi ini bisa justru memperkuat posisi politiknya dalam pemerintahan sehari-hari.
Agenda pemilu 25 Oktober mencakup pemilihan anggota parlemen dan presiden. Rangkaian dua pemilu dalam satu hari menambah kompleksitas penyelenggaraan, terutama dalam penerapan daftar pemilih dan pengawasan. Pengamat memantau apakah kelompok mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil akan kembali menggelar pemantauan independen seperti pada dua tahun terakhir.
Rangkaian pidato Vucic menjelang pengunduran diri juga menekankan capaian ekonomi dan hubungan luar negeri selama ia memimpin, dari perjanjian perdagangan dengan Asia hingga upaya mencari investasi asing. Pendukungnya memandang pengunduran diri sebagai langkah strategis yang memungkinkan partai mempertahankan kendali kekuasaan sambil mengikuti alur konstitusi. Sebaliknya, kelompok protes memandang langkah itu sebagai manuver baru yang tidak menyelesaikan tuntutan utama mereka, yaitu akuntabilitas atas tragedi Novi Sad dan pemulihan kepercayaan pada sistem hukum. Pertarungan pemilu nanti akan menguji interpretasi mana yang mendapat sambutan lebih besar di kalangan pemilih Serbia.
Sejumlah diplomat Eropa menilai perpindahan Vucic ke kursi perdana menteri, bila terjadi, tidak akan banyak mengubah arah kebijakan luar negeri Serbia dalam jangka pendek. Namun mereka mencermati apakah pemerintahan baru akan mempercepat atau justru memperlambat proses reformasi yang menjadi syarat pembukaan bab-bab perundingan dengan Uni Eropa, terutama pada bidang peradilan, kebebasan media, dan pengelolaan perusahaan negara yang selama ini menjadi sorotan dalam laporan tahunan lembaga tersebut.
Sumber: Deutsche Welle melalui ABP Live, Operativ MM, The Guardian, dan keterangan kantor kepresidenan Serbia, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar