Rupiah Melemah Dipengaruhi Ketegangan Geopolitik dan Harga Minyak di Atas 100 Dolar

Stamp of Indonesia - 2011 - Colnect 248309 - OKI Banknote.jpeg

EraAIdailyNews, 22 September 2026 — Nilai tukar rupiah terus bergerak melemah dan utamanya dipengaruhi sentimen kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak. Mengutip Jakarta Interbank Spot Dolar Rate, nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin, 21 September 2026, ditutup di level Rp17.813 per dolar Amerika Serikat atau melemah sekitar 1 persen dalam sepekan terakhir.

Sepanjang tahun kalender yang sedang berjalan, nilai tukar rupiah sudah melemah 6,5 persen dibanding dolar Amerika Serikat. Di waktu yang bersamaan, catatan Trading Economics memperlihatkan harga minyak mentah jenis Brent bertengger di sekitar 101 dolar Amerika Serikat per barel, artinya masih melampaui ambang 100 dolar per barel.

Lonjakan harga minyak itu terjadi setelah perang antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas pada awal September 2026. Ketegangan tersebut membuat pasar energi global bergolak dan berdampak pada mata uang negara-negara pengimpor minyak.

Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, memaparkan bahwa tekanan pada rupiah masih bersumber dari kekhawatiran atas memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi itu membuat harga minyak bertahan di level tinggi, yakni melewati 100 dolar Amerika Serikat per barel.

Menurut Erwin, sentimen tersebut memperbesar risiko inflasi di tingkat global sekaligus menekan prospek fiskal. Selain itu, ada dua hal lain yang menambah beban nilai tukar, yaitu permintaan valuta asing dari kalangan importir dan dana portofolio yang keluar dari aset domestik.

Ia menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan, dengan penguatan secara quarter-to-date sebesar 0,37 persen. Di sisi lain, posisi cadangan devisa meningkat ke level 146,5 miliar dolar Amerika Serikat pada akhir Agustus 2026.

Bank Indonesia menegaskan akan tetap hadir di pasar agar mekanisme pasar tidak terganggu dan nilai tukar rupiah bertahan sesuai fundamentalnya. Salah satu caranya dengan menata struktur suku bunga di pasar uang sekaligus memperkuat strategi operasi moneter.

Di samping itu, bank sentral bakal menggenjot efektivitas upaya stabilisasi nilai tukar dan menjaga kecukupan likuiditas lewat transaksi underlying untuk swap lindung nilai. Insentif bagi swap lindung nilai itu pun disiapkan Bank Indonesia.

Erwin menyampaikan bahwa intervensi akan dijalankan terus-menerus secara konsisten dan berkesinambungan. Instrumennya mencakup transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward di pasar domestik, ditambah pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

Bank Indonesia juga akan terus menjalin koordinasi dan komunikasi dengan korporasi maupun pelaku pasar demi mendorong modal asing masuk. Caranya antara lain memaksimalkan insentif yang sudah tersedia dan memperluas sumber permintaan valuta asing lewat skema Local Currency Transaction.

Ibrahim Assuaibi, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures, menilai pergerakan rupiah turut dipengaruhi sejumlah kebijakan domestik. Ujarnya, pelaku pasar masih akan menanti keputusan Bank Indonesia di tengah gejolak nilai tukar rupiah, inflasi, dan kebijakan bank sentral global yang tidak seragam.

Menyikapi perkembangan itu, pasar menduga akan ada kenaikan suku bunga lanjutan dari Bank Indonesia. Ibrahim menyatakan sebagian bank sentral memilih bersikap hawkish, sedangkan sebagian lain masih punya ruang untuk melonggarkan kebijakan dengan menahan posisi suku bunga acuannya.

Namun, melihat situasi inflasi global yang tinggi, ia memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Perkiraan itu menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar dalam menyusun strategi investasi jangka pendek.

Pelemahan rupiah memberi dampak berantai pada perekonomian domestik. Importir menghadapi biaya bahan baku yang lebih mahal, sementara eksportir memperoleh keuntungan dari selisih nilai tukar. Harga barang konsumsi yang bergantung pada komponen impor juga berpotensi ikut naik.

Bagi dunia usaha, pergerakan nilai tukar menuntut pengelolaan risiko yang lebih cermat, termasuk penggunaan instrumen lindung nilai. Pemerintah dan bank sentral menyatakan terus berkoordinasi menjaga stabilitas agar gejolak nilai tukar tidak mengganggu kegiatan ekonomi riil.

Pergerakan rupiah ke depan dipengaruhi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia serta perkembangan harga minyak dan imbal hasil obligasi negara maju. Pelaku pasar memperkirakan volatilitas masih berlanjut selama ketidakpastian kebijakan moneter global belum mereda.

Sumber: Kompas.id, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar