Sebuah studi memetakan skenario terburuk erupsi super Yellowstone dari gempa dua bulan sebelumnya hingga pendinginan global 1,5 derajat Celsius. Angka kematian berlebih diperkirakan mencapai 0,7 hingga 1,3 miliar orang, dengan syarat tegas: seluruhnya model hipotetis, dan erupsi sebesar itu terakhir terjadi 631.000 tahun lalu.
Yellowstone National Park berdiri di atas kaldera raksasa berukuran sekitar 55 sampai 70 kilometer, sisa dari serangkaian erupsi super di masa lampau. Sebuah studi terbaru menyusun urutan peristiwa skenario terburuk apabila gunung berapi itu kembali meletus pada masa kini, dari tanda-tanda awal di ruang pemantauan seismik hingga dampak global satu dekade kemudian. Penulis studi menegaskan bahwa seluruhnya adalah simulasi ekstrem, bukan ramalan akan terjadi dalam waktu dekat.
Menurut urutan skenario itu, dua bulan sebelum letusan, seorang analis di Stasiun Seismograf Universitas Utah akan melihat lonjakan gempa kecil yang makin rapat di bawah kaldera. Dalam hitungan minggu, peluang terjadinya letusan besar dalam tiga bulan naik dari kisaran 6 sampai 9 persen menjadi 21 sampai 27 persen, kondisi yang memicu FEMA menyusun rencana evakuasi tanpa diumumkan ke publik.
Dua minggu menjelang letusan, peluang ledakan katastrofik dalam tiga minggu diperkirakan melonjak ke 85 sampai 92 persen. Pada titik itu pihak berwenang menetapkan zona evakuasi berjari-jari 100 kilometer di sekitar taman nasional yang menyingkirkan sekitar 200.000 penduduk. Kota-kota di sekitarnya mulai mengosongkan sekolah dan rumah sakit sementara jalur darat dipadatkan warga yang keluar dari kawasan bahaya.
Ketika letusan terjadi, magma bersuhu 650 sampai 800 derajat Celsius pecah menjadi abu dan pumice, menembakkan kolom letusan setinggi 30 sampai 50 kilometer ke angkasa yang bisa terlihat dari Denver sejauh 800 kilometer. Arus piroklastik memusnahkan segala sesuatu di puluhan kilometer pertama, dengan perkiraan hingga 1.000 korban tewas langsung akibat ledakan dan panas.
Dalam beberapa hari, Kota Billings di Montana bisa terkubur abu setebal hingga 1,8 meter, sementara Salt Lake City dan Boise menerima timbunan puluhan sentimeter. Listrik, air bersih, dan jaringan jalan di kawasan luas itu lumpuh sebelum bantuan bisa masuk, sementara penerbangan di Amerika Serikat bagian barat praktis berhenti karena abu vulkanik.
Dampak tidak berhenti di satu negara. Sulfur dioksida yang terperangkap di stratosfer memicu episode pendinginan global hingga 1,5 derajat Celsius yang merusak panen di Amerika Utara sekaligus mendorong harga pangan dunia melonjak. Gangguan musim tanam berkepanjangan itulah yang membawa kerusakan ekonomi jauh melampaui area yang terkena abu secara langsung.
Satu dekade setelah letusan, para peneliti memperkirakan populasi dunia yang mengalami kekurangan air minum meningkat dari 4,4 miliar orang menjadi 4,8 miliar orang, dan jumlah penduduk bumi turun dari 8,3 miliar menjadi 7,9 miliar akibat gabungan kelaparan, penyakit, dan sistem kesehatan yang runtuh. Angka kematian berlebih pada skenario paling parah diperkirakan berada di antara 0,7 dan 1,3 miliar jiwa, dengan potensi dua kali lipat lagi yang hidup dengan gangguan kesehatan jangka panjang.
Para pakar mengingatkan bahwa angka mengerikan itu lahir dari model skenario terburuk, bukan peringatan letusan. Erupsi sebesar itu terakhir terjadi sekitar 631.000 tahun lalu, jauh sebelum manusia diyakini mencapai benua Amerika. Pemantauan gempa, deformasi tanah, dan gas di Yellowstone berjalan terus setiap hari, dan hingga kini kombinasi tanda menuju letusan besar tidak terlihat.
Studi semacam ini tetap berguna karena memetakan titik-titik keputusan yang harus diambil pemerintah, mulai dari kapan evakuasi diumumkan hingga bagaimana menjaga pasokan pangan lintas negara. Nilainya terletak pada kesiapan menghadapi bencana berskala planet, bukan pada ramalan tanggal letusan yang tidak diprediksi siapa pun.
Pada bulan keempat sebelum letusan, gempa kecil mulai bermigrasi ke atas dan stasiun GPS mulai berjalan menjauh, tanda kerak bumi terdorong magma. Pada titik itu tingkat kewaspadaan gunung berapi Yellowstone dinaikkan dari normal menjadi advisory, dan petugas peneliti menambah seismograf serta sampel gas sementara pusat taman nasional meninjau ulang rencana penutupan jalan dan komunikasi publik.
Para peneliti sekaligus menenangkan diri dengan catatan sejarah. Pada 2013 sampai 2014 sebagian kaldera terangkat lebih dari 15 sentimeter per tahun disertai gempa berkekuatan 4,8 skala Richter, tetapi setelah itu tanah justru turun dan ilmuwan menyimpulkan peristiwa itu berasal dari pergerakan fluida hidrotermal, bukan magma.
Namun skenario letusan memperkirakan bahwa gempa dangkal, getaran gunung berapi berkelanjutan, dan lonjakan karbon dioksida yang terkumpul bersamaan akan mengubah kesimpulan itu menjadi kekhawatiran nyata, ketika pengukuran tekanan menunjukkan magma bergerak ke permukaan.
Sekitar dua pekan sebelum letusan, konferensi pers mengumumkan peluang letusan katastrofik dalam tiga minggu sebesar 85 sampai 92 persen. Pada titik itu peringatan dinaikkan ke status watch dan kode warna penerbangan berubah menjadi oranye sehingga pesawat dialihkan dari wilayah tersebut, sementara zona evakuasi 100 kilometer diumumkan memengaruhi sekitar 200.000 penduduk dan ribuan pengunjung taman.
Kepentingan media menarik perhatian sekaligus memunculkan klaim yang saling bertentangan. Kelompok yang meragukan bencana menyatakan tidak akan terjadi apa-apa, sementara kelompok lain menyebarkan informasi keliru bahwa pemantauan dimanipulasi untuk tujuan tertentu, pola yang dianggap para vulkanolog berbahaya karena bisa mengurangi ketaatan warga pada instruksi evakuasi.
Sumber: UNILAD, Knowridge, dan Daily Mail mengutip hasil studi soal skenario erupsi Yellowstone, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar