Topan ke-26 musim ini, Surigae, menguat di perairan selatan Okinawa dengan hembusan angin mencapai 126 kilometer per jam, berselang pekan setelah Topan Dujuan menewaskan 12 orang di Jepang. Otoritas Jepang mengeluarkan peringatan laut dan cuaca untuk wilayah Okinawa, sementara jalur badai dipantau hingga 28 September.
Topan Surigae, badai ke-26 pada musim topan tahun ini, terus bergerak di perairan selatan Pulau Okinawa pada akhir pekan ini dan memaksa otoritas Jepang menyiapkan peringatan cuaca baru. Badan Meteorologi Jepang mencatat badai tersebut berada tepat di selatan Okinawa pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 12.23 waktu setempat, dengan tekanan pusat 996 hektopaskal dan hembusan angin maksimum mencapai 126 kilometer per jam. Surigae bergerak ke barat laut dengan kecepatan sekitar 10 kilometer per jam, sebuah laju yang relatif lambat dan memberi waktu lebih panjang bagi otoritas untuk mengawasi perkembangannya.
Sebelum menguat menjadi topan, badai ini lebih dulu tercatat sebagai badai tropis di timur laut Pulau Luzon, Filipina, dengan angin berkelanjutan sekitar 75 kilometer per jam dan jarak sekitar 1.200 kilometer dari utara Luzon. Dari posisi itu, sistem cuaca ini bergerak ke arah barat laut dan perlahan menyusun diri menjadi topan penuh. Filipina berada di garis pantau pertama karena jarak Surigae ke Luzon pada tahap awal masih relatif dekat sebelum badai mengalihkan arah menuju perairan utara.
Pemerintah Prefektur Okinawa menyiapkan kondisi laut bergelombang tinggi dan angin yang menguat sejak Minggu. Prakiraan menyebut badai ini akan membawa hujan lebat dan angin dahsyat pada 26 sampai 28 September, tepat pada periode ketika Surigae melintas paling dekat dengan kepulauan Jepang bagian selatan. Warga di pesisir diminta mewaspadai peningkatan muka air dan gangguan transportasi laut.
Peringatan ini keluar berselang hanya beberapa hari setelah Topan Dujuan, badai ke-25 musim ini, menghantam pantai Pasifik bagian timur Jepang. Dujuan membawa banjir dan tanah longsor di kawasan dekat Tokyo hingga Jumat malam menewaskan 12 orang dan melaporkan tiga orang hilang di Prefektur Chiba dan Kanagawa. Sekitar 9.000 rumah tangga di dua prefektur itu masih tanpa listrik ketika Surigae mulai mendekat, sehingga aparat kesulitan ganda dalam menangani pemulihan sekaligus pencegahan.
Untuk jalur pelayaran, posisi Surigae di laut terbuka selatan Okinawa berarti kapal-kapal yang melintas di koridor perairan timur laut Asia harus mengubah rute. Nelayan di perairan utara Filipina dan selatan Jepang diminta tidak melaut selama periode puncak badai. Beberapa negara juga mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya yang berencana menuju kawasan tersebut pada akhir pekan.
Kecepatan gerak Surigae yang lambat, sekitar 10 kilometer per jam, membuat masa pengawasan menjadi lebih panjang dibanding badai yang melintas cepat. Di sisi lain, badai perlahan sering kali menyerap lebih banyak energi dari laut hangat dan memperkuat diri lebih lama. Otoritas meteorologi Jepang terus memperbarui jalur prediksi setiap beberapa jam karena pergeseran kecil pada jalur badai dapat menggeser titik pendaratan dari satu pulau ke pulau lain.
Sejarah musim ini menunjukkan bahaya topan di kawasan tersebut bukan sekadar angin. Dujuan membawa hujan yang memicu longsor di pegunungan sekitar Tokyo, sementara Surigae datang dengan pola gerakan lambat yang memungkinkan curah hujan menumpuk di lokasi yang sama. Kombinasi dua badai dalam jarak satu pekan itu yang membuat kesiapsiagaan wilayah pesisir menjadi prioritas utama pekan ini.
Pantauan terhadap Surigae diperkirakan berlangsung hingga akhir September, ketika badai mulai melemah atau bergeser ke arah utara. Penduduk di sekitar jalur badai diminta mengikuti perkembangan resmi dari Badan Meteorologi Jepang karena peringatan dapat diperbarui mengikuti pergerakan pusat badai yang masih terus berubah.
Prakiraan gelombang setinggi 6 meter berlaku untuk perairan sekitar Pulau Okinawa pada 27 dan 28 September, sementara kecepatan angin sematan diperkirakan mencapai 35 meter per detik. Pemerintah daerah melarang warga mendekati pantai, muara sungai, dan pelabuhan selama puncak badai, dan meminta rumah tangga menyiapkan air minum, makanan, obat, serta baterai cadangan sebelum angin menguat.
Jalur Surigae berikutnya masih belum pasti. Badai diperkirakan berbelok ke timur laut menuju Pulau Honshu, namun sejumlah lembaga prakiraan menilai kemungkinan itu masih berfluktuasi. Yang lebih pasti, uap air dari sekitar badai akan menghidupkan kembali aktivitas musim gugur aktif di Jepang bagian timur sehingga hujan deras bisa terjadi jauh sebelum pusat badai tiba di wilayah tersebut.
Untuk Jalur Kanto, peringatan disampaikan lebih dini karena tanah di Prefektur Chiba dan Kanagawa masih labil akibat hujan hebat dari Topan Dujuan. Petugas prakiraan menyebut hujan yang relatif sedikit pun sudah cukup memicu tanah longsor di lereng yang pori-porinya jenuh air, sehingga warga di kawasan perbukitan diminta waspada pada 29 dan 30 September ketika hujan mulai mengguyur kembali.
Sejumlah maskapai dan operator feri sudah memantau perkembangan badai untuk menentukan pembatalan jadwal. Di sisi lain, otoritas pelabuhan meminta kapal-kapal niaga menunda keberangkatan selama gelombang tinggi karena jalur perairan selatan Okinawa merupakan salah satu koridor sibuk untuk lalu lintas peti kemas menuju timur laut Asia.
Sumber: Caliber.az, SBS, dan 604 Now yang mengutip NHK dan Badan Meteorologi Jepang, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar