Kios cabai di pasar induk

Bagi ibu-ibu yang belanja ke pasar Jumat pagi (9/10/2026), ada kabar yang menyesakkan: semua jenis cabai naik harga. Cabai rawit merah — primadona sambal Indonesia — bertengger di Rp101.350 per kilogram, tertinggi di antara empat jenis cabai yang dipantau Bank Indonesia. Kabar baiknya: bawang, ayam, dan telur justru turun.

Foto: Indonesiagood, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia per pukul 11.40 WIB mencatat kenaikan di seluruh jenis cabai. Cabai merah besar naik Rp6.500 atau 10,29 persen menjadi Rp69.650 per kilogram. Cabai merah keriting naik lebih tajam: Rp7.350 atau 9,84 persen menjadi Rp82.050 per kilogram. Cabai rawit hijau naik Rp5.800 atau 8,25 persen menjadi Rp76.100 per kilogram. Dan cabai rawit merah naik Rp800 menjadi Rp101.350 per kilogram.

Sebaliknya, harga bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, dan telur ayam ras mengalami penurunan pada hari yang sama — sedikit penyeimbang bagi dompet belanja rumah tangga yang tertekan harga bumbu dapur.

Sudah Melampaui Batas Wajar

Kenaikan ini bukan kejadian sehari. Badan Pusat Statistik mencatat harga cabai rawit pada minggu pertama Oktober naik 10,21 persen dibandingkan rata-rata September 2026 — dari Rp78.802 menjadi Rp86.846 per kilogram. Angka itu sudah jauh melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen yang ditetapkan sebesar Rp57.000 per kilogram.

Kenaikan terjadi di 259 kabupaten/kota atau 71,94 persen wilayah Indonesia — artinya ini bukan masalah satu-dua daerah, melainkan fenomena nasional. BPS juga mencatat harga cabai merah rata-rata mencapai Rp63.913 per kilogram pada minggu pertama Oktober, naik 11,38 persen dibandingkan September yang berada di Rp57.383 per kilogram.

Data PIHPS menunjukkan ketimpangan antarprovinsi yang mencolok: Maluku Utara mencatat harga tertinggi untuk cabai merah, cabai rawit, dan telur ayam sekaligus. Jarak antara sentra produksi dan wilayah kepulauan terpencil kembali menjadi biang kerok mahalnya harga di timur Indonesia.

Mentan Turun Tangan

Lonjakan harga sudah memantik reaksi pemerintah. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman meminta Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan melakukan pengecekan langsung ke lapangan untuk mengetahui kondisi harga cabai sebenarnya.

Amran menekankan pentingnya menjaga agar harga di tingkat konsumen tidak melonjak sementara harga di tingkat petani justru rendah — indikasi adanya permainan di rantai distribusi. "Cabai, ayam jangan sampai harga di tingkat konsumen tinggi, padahal tingkat produsen rendah," ujarnya. Ia berjanji menindaklanjuti temuan lapangan dalam rapat internal.

Rantai Distribusi yang Panjang

Persoalan klasik harga cabai di Indonesia memang bukan semata soal produksi, melainkan rantai distribusi yang panjang dan berlapis. Dari petani, cabai berpindah ke pengepul, pedagang besar, distributor antarpulau, hingga pedagang eceran — setiap tangan mengambil margin. Ketika pasokan dari sentra produksi seperti Jawa Timur dan Jawa Barat tersendat karena cuaca, spekulan di tengah rantai ikut menaikkan harga.

Pemerintah sebenarnya punya instrumen untuk memangkas rantai ini: operasi pasar, penyerapan oleh BUMN pangan, hingga fasilitasi distribusi langsung dari petani ke pasar induk. Namun instrumen-instrumen itu hanya efektif jika data pasokan akurat dan respons cepat — dua hal yang selama ini menjadi titik lemah. Selama rantai distribusi tidak dibenahi, setiap musim hujan atau kemarau ekstrem akan kembali menghadirkan drama harga cabai yang sama.

Beras: Naik-Turun Tak Beraturan

Di luar cabai, harga beras bergerak beragam menurut kualitasnya. Beras kualitas bawah I naik Rp100 menjadi Rp15.000 per kilogram, sedangkan bawah II turun Rp50 menjadi Rp14.650 per kilogram. Pada kelompok medium, medium I turun Rp50 menjadi Rp16.550 per kilogram sementara medium II tidak berubah di Rp16.400 per kilogram.

Untuk kualitas super, super I turun Rp50 menjadi Rp17.900 per kilogram dan super II turun Rp150 menjadi Rp17.200 per kilogram. Pergerakan yang tidak seragam ini menunjukkan pasar beras relatif stabil tanpa tekanan berarti — berbeda jauh dengan gejolak di kelompok cabai.

Bagi konsumen, pelajarannya klasik namun tetap relevan: harga pangan segar seperti cabai sangat sensitif terhadap pasokan dan cuaca. Ketika produksi di tingkat petani terganggu, efeknya langsung terasa di meja makan dalam hitungan hari. Memantau data PIHPS secara berkala — bukan sekadar kaget di pasar — adalah cara paling waras menyiasati gejolak harga.

Baca juga