Jumat (9/10/2026) menjadi hari penebusan bagi Bursa Efek Indonesia. Setelah sehari sebelumnya terkapar 1,88 persen, Indeks Harga Saham Gabungan bangkit 1,04 persen ke level 6.093,76 — kembali ke atas level psikologis 6.000 dan tercatat sebagai salah satu yang terbaik di Asia hari itu.
IHSG dibuka di level 6.039,01 dan sempat tertekan hingga 5.995,82 di awal perdagangan — menguji kesabaran investor yang masih trauma dengan koreksi sehari sebelumnya. Namun indeks berbalik arah, merangkak naik sepanjang sesi, dan sempat menyentuh 6.100,58 sebelum ditutup di 6.093,76 dengan kenaikan 62,48 poin. Sepanjang pekan, indeks tercatat naik 0,94 persen.
Aktivitas perdagangan ramai: volume mencapai 38,38 miliar saham dengan nilai transaksi Rp9,95 triliun dan frekuensi 1,42 juta kali. Sebanyak 381 saham menguat, 238 melemah, dan 172 stagnan. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan ikut naik 1,35 persen ke level 601,67. Hampir semua sektor menghijau — barang baku, perindustrian, dan infrastruktur menjadi penopang utama. Hanya sektor properti yang tertinggal, turun tipis 0,16 persen.
Siapa Penggeraknya
Penguatan IHSG dikawal saham-saham berkapitalisasi besar dan lapis kedua yang kompak menghijau. PT Indika Energy Tbk (INDY) melonjak 6,08 persen, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melesat 4,81 persen, PT Indofood CBP Tbk (ICBP) naik 2,58 persen, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menguat 2,41 persen, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) terbang 2,23 persen, dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) naik 2 persen. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masing-masing menyumbang 2,45 dan 2,22 poin indeks.
Dari sisi aliran dana, investor asing membukukan beli bersih Rp29,63 miliar di seluruh pasar — kecil, tetapi cukup menjadi sinyal bahwa tekanan jual asing mereda.
Angin dari Luar Negeri
Penguatan ini tidak lepas dari meredanya kekhawatiran global. Harga minyak acuan Brent melemah ke level US$102 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan sela (midterm elections), bahkan menyebut adanya "diskusi yang produktif" dengan Teheran. Trump juga menyatakan pengiriman ekspor minyak mentah dalam jumlah besar sedang melintasi Selat Hormuz — kabar yang menenangkan pasar energi.
Nilai tukar rupiah ikut menguat 0,08 persen ke Rp17.883 per dolar AS di pasar spot. Dari dalam negeri, data penjualan ritel Agustus 2026 yang tumbuh 1,3 persen year-on-year — naik dari 1,1 persen pada Juli — memberi bahan bakar tambahan bagi optimisme konsumsi domestik.
Angka kunci perdagangan 9 Oktober 2026:
- 6.093,76 — penutupan IHSG, naik 62,48 poin (+1,04%)
- Rp9,95 triliun — nilai transaksi dengan volume 38,38 miliar saham
- 381 vs 238 — jumlah saham menguat berbanding melemah
- Rp29,63 miliar — beli bersih investor asing
- 601,67 — level indeks LQ45, naik 1,35%
- 6.000–6.215 — rentang proyeksi IHSG pekan depan (Phintraco Sekuritas)
Pekan Depan: Waspada Tetap Perlu
Euforia Jumat sore sebaiknya tidak membuat lengah. Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengingatkan pasar domestik masih menghadapi tekanan eksternal: sikap hawkish bank sentral AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, serta harga minyak Brent yang bertahan di atas US$100 per barel.
Pekan depan, investor akan mencermati rentetan data ekonomi AS: indeks harga konsumen (CPI) pada 14 Oktober, indeks harga produsen (PPI) pada 15 Oktober, serta data harga impor dan ekspor AS pada 16 Oktober. Rangkaian data itu akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed — dan pada gilirannya menggerakkan dolar AS serta aliran modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas mencatat IHSG ditutup di atas MA3 dan bertahan di atas level kritikal 6.000, dengan histogram negatif MACD yang terus menyempit. Namun Stochastic RSI berpotensi membentuk death cross di area pivot — sinyal bahwa reli ini butuh konfirmasi lanjutan. Proyeksi rentang pekan depan: 6.000 hingga 6.215. Di bawah 6.000, pesta usai; di atasnya, momentum berlanjut.
