Presiden China Xi Jinping tiba di Amerika Serikat untuk kunjungan negara pertama dalam 11 tahun, membuka perundingan berisiko tinggi dengan Presiden Donald Trump.
Pemimpin China Xi Jinping tiba di Amerika Serikat pada Rabu malam waktu setempat untuk kunjungan negara pertamanya dalam 11 tahun. Kedatangan itu membuka perundingan berisiko tinggi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada momen yang menentukan bagi kedua pemimpin.
Ini menjadi pertemuan kedua kedua pemimpin pada tahun ini, setelah pertemuan puncak di Beijing pada Mei lalu ketika keduanya sepakat membangun hubungan bilateral yang lebih stabil.
Kedua pemimpin sama-sama berupaya memperkuat posisi politik di dalam negeri. Bagi Trump, kunjungan itu berlangsung sekitar satu bulan sebelum pemilihan sela. Bagi Xi, persiapan menuju Kongres Partai yang sangat penting dimulai begitu ia kembali ke Beijing.
Meski kedua negara menunjukkan keinginan membangun apa yang disebut China sebagai hubungan stabilitas strategis yang konstruktif, negosiasi sengit atas sejumlah persoalan berat seperti kecerdasan artifisial dan perdagangan masih berjalan.
"Di bawah permukaan, pihak China tampaknya banyak melakukan tendangan belakangan ini. Dan kalau perlu, kami akan menendang balik," kata Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dalam wawancara dengan Fox News pada Juli lalu.
Hubungan kedua negara digambarkan berada dalam kondisi detente yang rapuh. Trump berulang kali berbicara hangat tentang bagaimana ia diperlakukan selama kunjungannya ke China, termasuk upacara kenegaraan dan jamuan negara di Great Hall of the People, Beijing.
Salah satu peserta jamuan itu, Wu Xinbo, yang memimpin pusat studi Amerika di Universitas Fudan, Shanghai, menyebut suasana itu sebagai yang terhangat dalam hubungan Amerika Serikat dan China selama bertahun-tahun. Namun, sejak itu, keadaan menjadi lebih rapuh.
"Dalam beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat terus menahan dan menekan China di bidang ekonomi, teknologi, dan pertukaran antarmasyarakat," kata Wu. Amerika Serikat misalnya menerapkan tarif tambahan atas ekspor China dengan alasan dugaan kerja paksa, dan Pentagon memasukkan raksasa teknologi China ke daftar hitam militer.
Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat juga melarang impor baru robot humanoid dan robot anjing buatan China dengan alasan keamanan nasional. Langkah-langkah itu membuat negosiasi di Washington berjalan di atas ketegangan yang belum surut.
Profesor studi internasional Universitas Nanjing, Zhang Yun, menilai naik turun hubungan kedua negara adalah hal yang wajar dalam relasi yang rumit. Menurut dia, yang penting adalah membangun saluran tingkat tinggi untuk menangani masalah yang muncul dan meredam dampak negatifnya.
Zhang menyebut Taiwan, teknologi, dan perdagangan menjadi agenda utama Xi dalam kunjungan itu. Pembahasan soal perang di Iran dan Ukraina serta ketegangan di Semenanjung Korea juga diperkirakan masuk agenda.
Perwakilan Dagang Amerika Serikat Jamieson Greer menyatakan pekan ini kedua negara masih menegosiasikan kemungkinan perpanjangan gencatan senjata soal logam tanah jarang yang menjamin kelanjutan pasokan produk tanah jarang China untuk Amerika Serikat. China mendominasi pemurnian logam tanah jarang dan mineral kritis lain yang penting bagi pembuatan berbagai produk, mulai dari telepon seluler hingga senjata.
Namun, pejabat Amerika Serikat mengeluh China tidak menjalankan bagiannya dari kesepakatan. Pemberitaan NPR menunjukkan saling ketidakpercayaan menggagalkan tawaran Beijing untuk memperpanjang gencatan senjata tanah jarang hingga akhir masa jabatan Trump pada Januari 2029.
Dari sisi parlemen Amerika Serikat, Ketua Komite Urusan Luar Negeri Dewan Perwakilan Brian Mast menilai pertemuan itu menjadi kesempatan utama untuk membantu menurunkan biaya hidup warga Amerika, khususnya di pompa bensin. Ia menuduh China menjadi salah satu pihak terbesar yang menyebabkan kesulitan biaya hidup, terutama lewat dukungan terhadap Iran.
Menurut Mast, China bersedia mempersenjatai Iran dalam konfliknya dengan Amerika Serikat. Konflik itu dinilai mengacaukan perdagangan global karena secara efektif menutup Selat Hormuz. "Jika Presiden Trump dapat memastikan China berhenti mempersenjatai Iran, yang berusaha mengacaukan jalur minyak penting dunia itu, maka presiden telah melakukan hal yang sangat penting bagi keterjangkauan harga," katanya.
Harga bahan bakar menjadi titik panas dalam politik Amerika Serikat. Rata-rata nasional harga satu galon bensin tercatat 4,47 dolar Amerika Serikat, naik lebih dari 30 sen sejak 3 September 2026. Biaya hidup dan keterjangkauan menjadi isu utama menjelang pemilihan sela November.
Analis lain menilai Trump perlu memperingatkan Xi soal apa yang disebut aliansi berbahaya dengan Iran. Direktur eksekutif Foundation for Defense of Democracies, Jonathan Schanzer, menyatakan bantuan China kepada rezim Iran mencakup sejumlah front, mulai dari penyediaan komponen dan motor drone hingga bahan kimia dwifungsi yang membantu program rudal Iran.
Schanzer menambahkan sejumlah serangan yang terlihat terlalu presisi bagi rezim Iran diduga turut dibantu China. Pernyataan itu muncul setelah Menteri Luar Negeri China Wang Yi dilaporkan menyatakan kepada Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahwa China siap memainkan peran konstruktif dalam menyelesaikan sengketa internasional. Perang Amerika Serikat melawan Iran mendekati bulan ketujuh.
Bagi kedua pemimpin, hasil pertemuan ini punya konsekuensi politik langsung. Trump membutuhkan hasil yang bisa dijual sebagai keberhasilan ekonomi sebelum pemilihan sela, sementara Xi menghadapi Kongres Partai yang menentukan arah kepemimpinan China beberapa tahun ke depan.
Sumber: NPR, 23 September 2026; Fox News, 24 September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar