Google dan Qualcomm merilis laptop Googlebook yang menjalankan aplikasi dan gim Android secara native, hadir lewat sejumlah vendor seperti Acer, Asus, Dell, HP, dan Lenovo.
Laptop Googlebook yang memakai chipset Snapdragon X Elite besutan Google resmi dirilis pada Senin, 21 September 2026. Laptop hasil kerja sama Google dan Qualcomm ini menggabungkan pengalaman lintas perangkat dengan ponsel dan tablet berbasis Android.
Laptop ini diklaim memungkinkan pengguna menjalankan aplikasi dan gim Android secara native dengan lebih lancar. Kemampuan itu menjadi pembeda dibanding laptop biasa, karena aplikasi Android umumnya dijalankan lewat lapisan emulasi yang membuat performanya berkurang.
Chipset Snapdragon X Elite pada Googlebook dibuat dengan fabrikasi 3nm dan ditenagai CPU Qualcomm Oryon yang punya hingga 18 inti serta kecepatan maksimal 5GHz. Prosesor ini juga memuat unit pemrosesan saraf yang diklaim tercepat di dunia dengan kemampuan hingga 80 TOPS.
Untuk konektivitas, Snapdragon X Elite didukung Wi-Fi 7 dan opsi jaringan seluler 5G bawaan. Dukungan itu membuat laptop dapat terhubung ke internet tanpa bergantung pada jaringan nirkabel di sekitar.
Kendar Kondap, Senior VP dan General Manager Compute and Gaming Qualcomm Technologies, menjelaskan bahwa Snapdragon X Elite memberikan performa sekaligus efisiensi daya yang luar biasa. Menurutnya, kemampuan itu kini dilengkapi dukungan untuk menjalankan aplikasi dan gim Android native bagi pemakai Googlebook.
Berbekal chipset itu, Googlebook turut dilengkapi sejumlah fitur AI. Fitur tersebut memungkinkan pengguna mengakses informasi dari surel, kalender, dan konten di layar dengan mudah, sehingga pekerjaan yang biasanya memerlukan perpindahan antar-aplikasi dapat dikerjakan lebih cepat.
Peluncuran Googlebook generasi pertama ini berkolaborasi dengan sejumlah vendor laptop, termasuk Acer, Asus, Dell, HP, dan Lenovo. Laptop itu hadir dalam beberapa varian, antara lain Asus Googlebook 14, Dell XPS Googlebook, HP Googlebook 14, dan Lenovo Googlebook 15.
Kolaborasi dengan banyak vendor menunjukkan pendekatan yang berbeda dari peluncuran perangkat bermerek tunggal. Dengan cara itu, pengguna memiliki pilihan ukuran layar dan tingkat harga yang lebih beragam, meski pengalaman perangkat lunaknya tetap sama.
Dari sisi efisiensi daya, chip berbasis arsitektur ARM umumnya lebih hemat dibanding prosesor yang dirancang untuk komputer meja. Efisiensi itu berdampak pada daya tahan baterai dan suhu permukaan yang lebih rendah saat dipakai bekerja.
Namun, arsitektur berbeda membawa konsekuensi pada kompatibilitas perangkat lunak. Aplikasi yang dirancang untuk arsitektur lain perlu diterjemahkan agar dapat berjalan. Terjemahan itu biasanya berjalan baik untuk aplikasi umum, tetapi aplikasi berat atau aplikasi khusus bisa mengalami penurunan performa.
Kemampuan menjalankan aplikasi Android secara native sebagian mengatasi persoalan tersebut, karena banyak aplikasi yang biasa dipakai tersedia dalam versi Android. Bagi pengguna yang pekerjaannya banyak bergantung pada aplikasi seluler, hal itu menjadi nilai tambah.
Kemampuan pemrosesan AI di perangkat menjadi bagian lain dari daya tarik laptop ini. Unit pemrosesan saraf memungkinkan tugas seperti perangkuman dokumen, penerjemahan, dan pencarian berbasis bahasa alami dikerjakan langsung di perangkat, tanpa mengirim data ke server.
Dari sisi harga, laptop dengan chip flagship dan dukungan 5G berada di segmen menengah ke atas. Bagi calon pembeli, perbandingan dengan laptop berbasis prosesor yang lebih umum tetap penting, terutama karena ketersediaan perangkat lunak khusus di Indonesia bisa berbeda.
Untuk pasar Indonesia, ketersediaan model tertentu mengikuti jadwal masing-masing vendor. Pengguna yang menunggu perangkat ini sebaiknya memantau pengumuman resmi vendor terkait, termasuk harga dan dukungan garansi di Tanah Air.
Kehadiran Googlebook menambah pilihan di segmen laptop yang mengutamakan mobilitas dan integrasi dengan ponsel. Bagi pengguna yang pekerjaannya berpindah antara ponsel dan komputer, integrasi itu bisa mengurangi langkah yang diperlukan untuk memindahkan pekerjaan dari satu perangkat ke perangkat lain.
Persaingan di segmen ini akan menentukan seberapa cepat aplikasi disesuaikan untuk arsitektur ARM. Semakin banyak aplikasi yang tersedia dalam versi asli, semakin kecil hambatan bagi pengguna untuk berpindah ke perangkat jenis ini.
Sumber: CNN Indonesia, 24 September 2026.
Dari sisi pemakaian sehari-hari, laptop jenis ini menyasar pekerjaan yang umum, seperti menulis, membuka banyak tab peramban, konferensi video, dan pengolahan dokumen. Untuk pekerjaan berat seperti menyunting video resolusi tinggi atau mengompilasi perangkat lunak besar, pengguna perlu memeriksa ulasan performa nyata sebelum membeli.
Durasi baterai menjadi daya tarik utama laptop berbasis ARM. Beberapa model di kelas ini diklaim mampu bekerja seharian tanpa mengisi daya pada pemakaian ringan. Angka klaim dan hasil nyata bisa berbeda, sehingga ulasan pemakaian nyata tetap penting sebagai bahan pertimbangan.
Tidak ada komentar
Posting Komentar