EraAIdailyNews, 22 September 2026 — Pernapasan lambat dengan fase mengembuskan napas yang diperpanjang membuat orang lebih bersedia mengambil risiko dengan mengubah aktivitas jantung dan meningkatkan kepekaan otak terhadap imbalan. Temuan itu menunjukkan bahwa sesuatu sesederhana mengatur napas dapat langsung memengaruhi cara seseorang menilai pilihan.
Dalam penelitian ini, pilihan berisiko dipahami sebagai hasil pertemuan antara informasi dari luar dan kondisi fisiologis yang sedang berlangsung. Otak tidak bekerja terpisah dari tubuh; perubahan pada irama napas dan jantung dapat menjadi sinyal yang ikut memengaruhi penilaian terhadap suatu pilihan.
Pola napas cepat dan detak jantung yang meningkat sering dikaitkan dengan pengambilan keputusan secara cepat. Saat berada di bawah tekanan, seseorang dapat memilih lebih hati-hati demi menghindari kerugian, misalnya ketika berinvestasi, menghadapi situasi kerja yang menegangkan, atau menentukan makanan dalam waktu singkat.
Kondisi sebaliknya muncul ketika napas diperlambat dan keadaan kardiovaskular menjadi lebih tenang. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi itu dapat mendorong penilaian yang lebih positif terhadap kemungkinan hasil sekaligus meningkatkan kesediaan untuk mengambil risiko. Dengan demikian, cara bernapas berpotensi menjadi salah satu jalur tubuh dalam membentuk keputusan.
Penelitian tentang pengambilan keputusan selama ini cenderung memusatkan perhatian pada otak. Studi baru tersebut memperluas perspektif itu dengan menguji kemungkinan bahwa sinyal dari bagian tubuh lain mampu mengubah aktivitas otak. Fokusnya bukan hanya apa yang dipikirkan seseorang, tetapi juga keadaan tubuh saat pilihan dibuat.
Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Neuron ini berasal dari kolaborasi German Institute of Human Nutrition Potsdam-Rehbruecke (DIfE) dan Charité -- Universitätsmedizin Berlin. Prof. Soyoung Q Park memimpin studi bersama peneliti dari Neuroscience Research Center di Charité, Freie Universität Berlin, serta German Naval Institute of Maritime Medicine.
Park, kepala Departemen Neurosains Keputusan dan Gizi di DIfE, menjelaskan bahwa keputusan jarang ditentukan semata-mata oleh informasi eksternal. “Penilaian kita muncul dari interaksi antara proses kognitif dan kondisi tubuh saat ini. Sebelumnya belum diketahui bagaimana pengaturan tubuh secara sadar, misalnya melalui pernapasan terarah, dapat secara aktif mengendalikan proses pengambilan keputusan,” ujarnya.
Untuk menguji hubungan tersebut, peneliti mempelajari 41 peserta sehat. Selama membuat serangkaian pilihan berisiko, peserta mengikuti instruksi pernapasan visual. Mereka bernapas pada kecepatan normal masing-masing atau memperlambat napas sambil memperpanjang fase embusan, dengan rasio tarikan dan embusan 2 banding 8. Kondisi itu diterapkan secara terkendali agar pilihan dalam kedua pola napas dapat dibandingkan.
Tim mencatat respons tubuh dan saraf secara bersamaan. Pencitraan resonansi magnetik fungsional digunakan untuk melacak aktivitas otak, sedangkan pola napas, aktivitas jantung, konduktansi kulit, dan respons pupil turut dipantau. Pengukuran berlapis ini memberi gambaran lebih utuh tentang perubahan yang menyertai setiap keputusan.
Kombinasi pengukuran tersebut penting karena memperpanjang embusan tidak hanya diduga menurunkan detak jantung. Peneliti juga ingin mengetahui apakah pola napas secara langsung mengubah cara otak memproses potensi imbalan. Mereka pun mengamati variabilitas detak jantung, yaitu ukuran yang mencerminkan pengaturan waktu di antara detak.
Hasilnya, embusan yang diperpanjang memperlambat detak jantung, meningkatkan variabilitas detak jantung, dan berkaitan dengan pilihan yang lebih berisiko. Perubahan sikap terhadap risiko tampaknya berasal dari perhatian yang lebih besar pada kemungkinan imbalan, bukan dari berkurangnya kekhawatiran terhadap potensi kerugian. Respons peserta terhadap kerugian tetap serupa.
Aktivitas yang lebih kuat juga terdeteksi di korteks prefrontal ventromedial dan precuneus. Kedua wilayah otak ini terlibat dalam pemrosesan imbalan serta pengaturan waktu antardetak jantung. Temuan tersebut menyelaraskan perubahan pada pilihan dengan perubahan yang teramati pada dinamika jantung dan aktivitas otak.
Penulis utama Wenhao Huang menafsirkan temuan ini sebagai penegasan peran transformatif intervensi berbasis napas. “Interaksi antara pernapasan dan dinamika jantung membuat otak lebih reseptif terhadap imbalan,” katanya. Efek napas karena itu tidak hanya terkait dengan rasa tenang, tetapi juga dengan cara otak menilai kemungkinan hasil yang menguntungkan.
Studi ini memperkuat bidang komunikasi tubuh–otak dan mendukung model neuroviseral, yang memandang keadaan fisik sebagai faktor yang dapat membentuk proses kognitif. Park menambahkan bahwa teknik pernapasan telah menyertai manusia selama ribuan tahun dalam berbagai agama dan budaya. Menurut dia, penelitian ini memberikan dasar ilmiah bahwa metode tersebut dapat mengendalikan keputusan secara terarah.
Karena pernapasan terkontrol sederhana, murah, dan relatif mudah dipelajari, peneliti melihat nilainya sebagai alat pengaturan diri dalam kehidupan sehari-hari. Teknik ini juga berpotensi menjadi pendekatan pendukung nonfarmakologis di tatanan klinis, terutama bagi kondisi seperti gangguan kecemasan atau depresi yang dapat melibatkan gangguan pengaturan otonom serta perubahan respons terhadap imbalan.
Temuan ini belum berarti teknik tersebut dapat langsung diterapkan sebagai pengobatan. Penelitian lanjutan perlu memastikan apakah efek serupa muncul pada populasi klinis yang lebih luas, termasuk orang dengan berat badan berlebih. Peneliti juga tertarik menguji pengaruhnya pada keputusan terkait makanan, karena perilaku makan dipengaruhi oleh penilaian imbalan dan keadaan fisik.
“Karena keputusan diet sangat dipengaruhi oleh penilaian terhadap imbalan dan keadaan fisik, pengaturan napas yang terarah juga dapat berperan dalam mempersepsikan serta mengelola perilaku makan secara lebih sadar dan efektif,” ujar Park mengenai arah penelitian berikutnya.
Sumber: ScienceDaily, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar