Rusia Bersatu Menang Telak di Pemilu Duma, Raih 355 dari 450 Kursi

Moscow - 2026 - State Duma, 3rd Entrance2.jpg

EraAIdailyNews, 22 September 2026 — Partai Rusia Bersatu memenangi pemilihan parlemen Rusia dengan perolehan 57,83 persen suara. Data itu disampaikan Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia, Ella Pamfilova, seusai penghitungan suara. Pemungutan suara berlangsung selama tiga hari dan diikuti lebih dari 110 juta pemilih yang terdaftar.

Partai yang berkuasa lebih dari 20 tahun itu meraih 355 dari 450 kursi di Duma Negara. Hasil tersebut mencatatkan rekor baru bagi Rusia Bersatu sejak partai itu berdiri. Capaian itu jauh melampaui perkiraan sebelum pemilu yang menyebut partai tersebut mendapat kurang dari 50 persen suara.

Pada pemilu Duma 2021, Komisi Pemilihan Umum Rusia menetapkan Rusia Bersatu memperoleh 49,8 persen suara. Partai itu saat itu menguasai 324 kursi dari 450 kursi yang diperebutkan. Kenaikan perolehan pada pemilu kali ini dinilai mengejutkan sejumlah pengamat karena survei sebelumnya memperkirakan dukungan di bawah 50 persen.

Partai Komunis berada di posisi kedua dengan perolehan 13,84 persen suara. Partai ultranasionalis LDPR meraih 8,9 persen, sedangkan partai liberal Novye Lyudi mendapat 7,94 persen. Partai kiri Rusia yang Adil berada di angka 4,95 persen atau sedikit di bawah ambang batas lima persen.

Dengan persentase tersebut, hanya empat partai yang masuk parlemen Duma pada periode ini. Sebelumnya ada lima partai yang duduk di lembaga legislatif tersebut. Partai Rusia yang Adil gagal melewati ambang batas meski selisihnya hanya tipis. Komposisi baru itu membuat oposisi resmi di Duma semakin menyusut.

Partai Komunis mengalami penurunan perolehan dibandingkan pemilu sebelumnya yang mencapai 18,93 persen. Jumlah kursinya turun dari 57 menjadi sekitar 38 kursi. Partai Rusia yang Adil juga kehilangan sejumlah kursi dibandingkan hasil pemilu 2021 lalu.

Ini adalah pemilihan legislatif pertama sejak dimulainya invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Kesepuluh partai yang tercantum dalam surat suara dinilai dekat dengan Kremlin dan mendukung perang. Para kandidat yang menentang perang tidak diikutsertakan dalam pemilihan tersebut.

Partai liberal antiperang Yabloko tidak diizinkan ikut serta dalam pemilihan. Partai itu mengungkapkan kekhawatiran terhadap keselamatan para pendukungnya. Dua tokoh utama Yabloko dijatuhi hukuman penjara dalam jangka waktu panjang setelah mengeluarkan pernyataan soal perang melawan Ukraina.

Presiden Vladimir Putin menyebut pemungutan suara tersebut sebagai ujian dukungan atas kebijakan yang diambil Rusia. Sebaliknya, pemerintah Ukraina menyebut pemungutan suara itu sebagai pemilu palsu. Pernyataan itu disampaikan menyusul hasil penghitungan suara yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia.

Oposisi menuding panitia pemilu memanipulasi hasil pemungutan suara. Tuduhan serupa disampaikan pakar independen dan oposisi yang berada di pengasingan. Tim politisi oposisi Alexei Navalny menyatakan banyak suara warga Rusia yang mendukung negosiasi damai dengan Ukraina telah dirampas.

"Terlepas dari seberapa besar pemilu ini dimanipulasi, kami mengetahui: Ada banyak sekali warga Rusia yang menentang perang dan menentang Putin serta partainya," demikian pernyataan tim Navalny. Alexei Navalny sendiri merupakan kritikus Kremlin yang meninggal pada Februari 2024.

Tingkat partisipasi pemilih mencapai lebih dari 56 persen atau tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Lebih dari 110 juta orang dipanggil untuk memberikan suara dalam pemungutan suara yang berlangsung Jumat hingga Minggu. Panitia pemilu melaporkan adanya serangan siber terhadap sistem pemungutan suara daring selama proses berlangsung.

Ketua Partai Rusia Bersatu dan mantan Presiden Dmitry Medvedev menilai hasil pemilu tersebut sebagai keberhasilan besar. Ia mengklaim lawan politik mencoba menyabotase pemilu, namun upaya tersebut gagal. Menurut dia, Rusia Bersatu kini dapat menerapkan keputusan-keputusan yang paling kompleks dan mendesak.

Selama pemilu digelar pada akhir pekan lalu, serangan pesawat nirawak Ukraina menyasar wilayah Rusia. Serangan itu menyebabkan korban tewas dan luka-luka di sejumlah daerah. Medvedev mengklaim serangan tersebut justru semakin memotivasi masyarakat untuk datang memberikan suara. "Inilah adalah hasil yang paling penting," katanya.

Pemilu legislatif ini menjadi ujian dukungan publik terhadap kebijakan Rusia di tengah sanksi internasional. Sejumlah negara Barat menilai proses pemungutan suara tidak memenuhi standar pemilu yang bebas dan adil. Hasil resmi akhir tetap menunggu penyelesaian seluruh tahapan penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia.

Sumber: DW Indonesia dan Detik, 21 September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar