Sumber kepolisian memperingatkan bahwa pelaku kekerasan seksual di Inggris dan Wales dapat dibebaskan alih-alih dipenjara karena tekanan pada sistem pengadilan dan penjara. Kebijakan pembebasan awal diperkirakan meningkatkan biaya kepolisian sebesar 480 juta pound sterling.
Sumber kepolisian senior di Inggris dan Wales memperingatkan bahwa lebih banyak pelaku kekerasan seksual dapat dibebaskan alih-alih dipenjara karena tekanan luar biasa yang dihadapi sistem pengadilan dan penjara negara itu. Peringatan itu disampaikan menjelang pelaksanaan kebijakan pembebasan awal tahanan yang dijadwalkan berlaku pada Oktober.
Peringatan itu muncul setelah Komisaris Kepolisian Metropolitan London mengutuk pembebasan jaminan seorang pria yang mengakui telah mengambil gambar anak-anak dan perempuan, lalu menggunakan kecerdasan buatan untuk mengubahnya menjadi konten seksual. Pria itu dibebaskan ke apartemennya yang menghadap area bermain anak-anak, tempat ia justru melakukan sebagian kejahatannya.
Salah satu korban terpaksa pindah dari tempat tinggalnya setelah pengadilan menolak menahan pelaku sebelum putusan. Pelaku akhirnya dijatuhi hukuman penjara dua tahun saat putusan dibacakan, tetapi proses itu membawa dampak psikologis berat bagi korban yang merasa tidak terlindungi oleh sistem hukum.
Sumber polisi senior menyatakan bahwa pihaknya bersiap menghadapi lebih banyak kasus serupa di seluruh Inggris dan Wales. Mereka mengkhawatirkan tersangka yang seharusnya ditahan justru dibebaskan dengan jaminan, sesuatu yang menyebabkan penderitaan bagi para korban.
Estimasi dari Kepala Kepolisian Nasional Inggris menunjukkan bahwa kebijakan pembebasan awal akan menimbulkan biaya kepolisian sebesar 480 juta pound sterling di seluruh Inggris dan Wales, disertai potensi peningkatan kejahatan hingga 6 persen. Untuk Kepolisian Metropolitan London sendiri, biaya yang ditanggung diperkirakan mencapai 100 juta pound sterling.
Sumber kepolisian mengungkapkan bahwa layanan pemasyarakatan sedang berada di titik kritis, sementara kepolisian harus menanggung beban kerja tambahan dalam pengelolaan pelanggar di komunitas yang sebelumnya bukan tanggung jawab mereka. Situasi itu menguras sumber daya yang seharusnya digunakan untuk kegiatan kepolisian rutin.
Dokumen yang bocor mengungkapkan bahwa tahanan akan ditempatkan berdua dalam sel prefabrikasi yang dirancang untuk satu orang. Langkah itu diambil karena kapasitas penjara sudah berada di ambang batas penuh dan pemerintah memerlukan solusi cepat untuk menghindari kelebihan kapasisi yang lebih parah.
Dalam satu kasus yang disorot kepolisian, seorang remaja berusia 17 tahun dijamin sebanyak lima kali antara Juni dan September. Setiap kali dibebaskan, remaja itu melanggar ketentuan alat pemantau elektronik dua kali dan melakukan empat kejahatan tambahan, termasuk dua perampokan dan pembuatan serta distribusi gambar tidak senonoh anak-anak.
Petugas yang menangani kasus tersebut bahkan bekerja lembur hingga 23 jam berturut-turut dengan harapan tersangka akan ditahan. Namun, pengadilan tetap memutuskan untuk memberikan jaminan, yang menurut sumber kepolisian menunjukkan ketidaksesuaian antara keputusan pengadilan dan risiko yang dihadapi masyarakat.
Sebagian pihak di lingkungan kepolisian menduga bahwa pengadilan semakin enggan menahan tersangka kejahatan senjata tajam karena mereka memperkirakan hukuman akhir tidak akan berupa penjara. Tren ini menimbulkan kekhawatiran bahwa sistem peradilan kehilangan kemampuannya untuk melindungi masyarakat dari pelaku kekerasan berulang.
Bagi para korban, situasi ini menimbulkan rasa tidak aman yang mendalam. Ketika pelaku yang telah mengakui kejahatannya justru dibebaskan ke lingkungan yang sama dengan korban, perlindungan terhadap korban menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab oleh sistem peradilan saat ini.
Kebijakan pembebasan awal yang akan berlaku diperkirakan menambah tekanan pada sistem yang sudah kewalahan. Pertanyaan besar yang dihadapi pemerintah Inggris adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara mengurangi kelebihan kapasitas penjara dan tetap melindungi masyarakat dari pelaku kejahatan berisiko tinggi.
Beban kerja tambahan bagi kepolisian muncul dari kewajiban mengawasi pelanggar yang berada kembali di tengah masyarakat. Pengawasan semacam itu menuntut waktu personel, kunjungan berkala, dan pemantauan kepatuhan yang sebelumnya ditangani lembaga pemasyarakatan.
Sumber kepolisian menyatakan bahwa masalah ini tidak terbatas pada satu kota, melainkan kecenderungan nasional. Kesenjangan kapasitas penjara dan pengadilan membuat sejumlah daerah menghadapi situasi serupa dengan intensitas yang berbeda-beda.
Pengalaman dari kebijakan serupa di masa lalu menunjukkan bahwa pembebasan awal tanpa pengawasan memadai berisiko meningkatkan pengulangan kejahatan. Karena itu, sejumlah pihak mengusulkan pendampingan dan pemantauan ketat bagi pelanggar yang dibebaskan lebih awal.
Kepercayaan publik terhadap sistem peradilan menjadi taruhan utama. Ketika putusan pengadilan dinilai tidak mencerminkan tingkat risiko pelaku, masyarakat menuntut penjelasan dan jaminan bahwa keselamatan warga tetap menjadi prioritas utama negara.
Pemerintah Inggris belum mengumumkan perubahan atas jadwal kebijakan pembebasan awal yang akan berlaku pada awal Oktober. Perdebatan publik mengenai keseimbangan antara efisiensi sistem dan perlindungan korban diperkirakan akan terus berlanjut.
Sumber: The Guardian, 25 September 2026.

Tidak ada komentar
Posting Komentar