Peserta Celebrity Traitors Panik Saat Adegan Intens, Syuting Sempat Dihentikan

Seorang peserta Celebrity Traitors dilaporkan mengalami serangan panik ketika menjalani adegan yang sangat intens sehingga proses syuting dihentikan sementara. Rekan sesama peserta ikut turun tangan menenangkan yang bersangkutan sebelum produksi dilanjutkan.

Laporan sejumlah media hiburan Inggris menyebutkan proses pengambilan gambar program Celebrity Traitors sempat dihentikan sementara. Penyebabnya, seorang peserta mengalami serangan panik ketika menjalani salah satu adegan yang dinilai sangat intens. Rekan-rekan sesama peserta dilaporkan turun tangan menenangkan yang bersangkutan, sementara kru memilih mematikan kamera dan menghentikan jalannya produksi sampai kondisi peserta kembali stabil.

Celebrity Traitors merupakan versi selebriti dari format The Traitors yang diproduksi BBC. Dalam acara itu, sejumlah figur publik ditempatkan di sebuah kastil di Skotlandia dan dibagi menjadi dua kubu, yakni Faithful dan Traitors. Kelompok kecil Traitors bertugas menyisihkan peserta lain secara diam-diam, sementara mayoritas peserta berusaha mengungkap identitas mereka melalui diskusi dan pemungutan suara di meja bundar.

Format tersebut memang mengandalkan tekanan sosial, ketidakpastian, dan saling curiga. Peserta dituntut membaca gelagat satu sama lain, membangun aliansi, sekaligus berbohong bila berperan sebagai Traitors. Kombinasi itu membuat suasana permainan kerap memanas, terutama menjelang sesi pemungutan suara yang menentukan siapa yang harus keluar dari permainan.

Menurut pemberitaan yang beredar, insiden kepanikan terjadi di tengah rangkaian misi. Peserta yang bersangkutan disebut kesulitan mengendalikan emosi karena tekanan permainan, sorotan kamera, dan kelelahan. Kru produksi kemudian menghentikan syuting, memanggil tim pendamping, dan memberi ruang agar peserta bisa bernapas serta menenangkan diri sebelum melanjutkan.

Tekanan Psikologis di Balik Format Permainan

Pengamat televisi menilai apa yang dialami peserta bukan hal yang mengejutkan. Format kompetisi bertema strategi sosial menuntut peserta berada dalam kewaspadaan tinggi selama berjam-jam. Mereka harus terus berbicara, mengamati, dan menahan informasi, sementara kamera merekam hampir setiap gerak-gerik. Kondisi itu diperparah oleh jam tidur yang terbatas dan akses komunikasi dengan dunia luar yang dibatasi.

Selain itu, peserta versi selebriti menghadapi beban tambahan berupa reputasi. Kekalahan atau kesalahan membaca situasi bisa menjadi bahan pemberitaan dan perbincangan publik setelah program tayang. Bagi sebagian orang, bayangan itu membuat tekanan di dalam permainan terasa jauh lebih besar dibanding yang terlihat di layar.

  • Durasi syuting panjang dengan jam istirahat terbatas.
  • Isolasi dari keluarga serta minimnya akses informasi dari luar.
  • Tekanan sosial karena harus membangun kepercayaan sekaligus mencurigai orang lain.
  • Beban reputasi sebagai figur publik yang penampilannya dinilai banyak orang.
  • Suasana kompetisi yang menuntut keputusan cepat di meja bundar.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri televisi Inggris memang makin menaruh perhatian pada kesejahteraan peserta. Produser umumnya menempatkan psikolog atau konselor di lokasi syuting, menyusun prosedur penghentian produksi bila ada peserta dalam kondisi kritis, dan melakukan pendampingan setelah program selesai digarap. Pendekatan itu dikenal dengan istilah duty of care.

Duty of Care dan Batas Etika Reality Show

Regulator penyiaran Inggris, Ofcom, memiliki aturan yang mewajibkan penyelenggara program melindungi peserta dari bahaya fisik maupun tekanan psikologis yang tidak semestinya. Aturan itu mencakup kewajiban memberi informasi memadai sebelum syuting, meminta persetujuan yang sah, serta menyediakan jalur bantuan bila peserta mengalami dampak buruk setelah program ditayangkan.

Meski demikian, penerapannya tetap menghadapi tantangan. Batas antara tekanan yang wajar dalam sebuah kompetisi dan tekanan yang merugikan sering kali kabur. Karena itu, momen ketika kru memilih menghentikan syuting dan peserta lain ikut menenangkan rekannya kerap dipandang sebagai contoh baik bahwa keselamatan manusia ditempatkan di atas kebutuhan tayangan.

Sejauh ini belum ada pernyataan resmi terperinci dari pihak produksi maupun peserta terkait insiden tersebut. Sikap diam semacam itu lazim dalam industri hiburan untuk melindungi privasi orang yang bersangkutan. Namun, peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa di balik tayangan hiburan yang terlihat ringan, ada orang-orang yang menanggung beban emosional cukup berat.

Baca juga: Dinamika Aliansi dan Strategi di Balik Acara Kompetisi Bertema Deduksi

Bagi penonton, insiden ini bisa menjadi sudut pandang lain dalam menikmati acara berbasis strategi. Apa yang tampak sebagai intrik seru di layar adalah pengalaman menegangkan bagi peserta. Ketika produksi memilih mematikan kamera demi menenangkan seseorang, itu menjadi pengingat bahwa tayangan hiburan sebaiknya tidak dibangun di atas beban psikologis orang lain.