PT MRT Jakarta menargetkan investor asing ikut membiayai proyek kawasan berorientasi transit, dengan penekanan pada alih pengetahuan selain pendanaan.
PT MRT Jakarta menargetkan investor asing ikut berperan membiayai sejumlah proyek kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development yang akan dikembangkan di beberapa lokasi di DKI Jakarta.
Division Head Property Management Division PT MRT Muchamad Iqbal Bimo Arifianto menyampaikan hal itu di Jakarta, Jumat, 25 September 2026. Menurutnya, pihaknya menargetkan investor tidak hanya memberi bantuan pendanaan.
Yang dituju bukan sekadar suntikan dana, katanya, melainkan penguasaan ilmu yang telah terbukti di negeri asal para investor dan siap diterapkan di ibu kota. Kalimat itu ia sampaikan dalam paparannya di Jakarta, Jumat, 25 September 2026.
Dalam penawaran ini, pihaknya tidak berfokus pada jumlah dana yang akan diberikan investor. Perhatian lebih diarahkan pada opsi aset yang akan ditawarkan kepada perusahaan luar negeri.
Sejumlah aset mulai dipersiapkan untuk ditawarkan pada perusahaan asing, di antaranya kawasan TOD Blok M, TOD Dukuh Atas, sampai Lebak Bulus Park and Ride. Tiap aset dinilai mampu digarap bersamaan oleh lebih dari satu investor sekaligus.
Kehadiran kawasan berorientasi transit bertujuan menghidupkan kehidupan di kawasan tersebut. Kawasan itu diarahkan menjadi tempat titik temu, berkumpul, dan hidup bersama dengan aneka makan minuman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat urban.
Kawasan seperti ini juga akan menggerakkan ekonomi karena kunjungan masyarakat ke lokasi tersebut. Semakin banyak orang yang melintas dan berhenti di kawasan itu, semakin besar kegiatan usaha yang tumbuh di sekitarnya.
Blok M menjadi contoh perubahan yang disebutkan. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai terminal atau pusat perbelanjaan kini berevolusi menjadi kawasan transit yang didatangi masyarakat dari beragam kalangan.
Pengembangan kawasan TOD membutuhkan pendanaan yang cukup besar. Karena itu, keterlibatan investor dinilai perlu agar pengembangan tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran perusahaan atau pemerintah daerah.
Dari sisi tata kota, kawasan berorientasi transit mengubah cara orang bergerak. Ketika tempat tinggal, tempat kerja, dan pusat kegiatan berada dekat dengan stasiun, warga memiliki pilihan menggunakan angkutan umum untuk perjalanan harian.
Perubahan itu berdampak pada lalu lintas. Jika sebagian perjalanan berpindah ke angkutan umum, jumlah kendaraan pribadi di jalan dapat ditekan, sehingga kemacetan tidak bertambah secepat pertumbuhan kendaraan.
Pembangunan kawasan di sekitar stasiun juga menuntut perencanaan yang menyeluruh. Jalur pejalan kaki, penyeberangan, dan akses ke halte atau stasiun perlu dirancang agar perpindahan antarmoda berlangsung mudah.
Bagi pelaku usaha kecil, kawasan TOD membuka peluang. Arus orang yang datang dan pergi menciptakan permintaan harian terhadap makanan, minuman, dan jasa lain yang dapat diisi oleh usaha skala kecil.
Dari sisi pengelolaan, kerja sama dengan investor asing memerlukan kejelasan aturan. Kepemilikan aset, pembagian hasil, dan jangka waktu kerja sama perlu disepakati sejak awal agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Alih pengetahuan menjadi salah satu pertimbangan utama. Pengetahuan mengenai pengelolaan kawasan, pemeliharaan bangunan, dan pengaturan penyewa dinilai sama pentingnya dengan dana yang masuk.
Perusahaan juga perlu memperhatikan keterjangkauan. Kawasan yang berkembang pesat cenderung menaikkan harga properti di sekitarnya, sehingga perlu ada upaya agar warga berpenghasilan rendah tidak tersingkir dari lingkungannya sendiri.
Salah satu caranya adalah menyediakan hunian terjangkau di sekitar kawasan transit. Dengan begitu, warga yang bekerja di kawasan tersebut dapat tinggal dekat tempat kerjanya tanpa harus menempuh perjalanan panjang.
Dari sisi lingkungan, kawasan yang padat dan dekat angkutan umum umumnya menghasilkan emisi per orang lebih rendah. Perjalanan yang lebih pendek dan perpindahan ke angkutan umum mengurangi pemakaian bahan bakar.
Proyek semacam ini berjalan dalam jangka panjang. Hasilnya tidak terlihat dalam satu dua tahun, tetapi dampaknya pada pola perjalanan warga kota terasa setelah kawasan dan layanan angkutan umumnya berjalan sepenuhnya.
Sumber: ANTARA, 25 September 2026.
Pengalaman kota lain bisa menjadi pembanding. Sejumlah kota di luar negeri berhasil mengubah kawasan sekitar stasiun menjadi pusat kegiatan yang ramai, dengan perpaduan hunian, perkantoran, dan ruang publik.
Dari sisi pelaksanaan, tahapan pembangunan perlu dirancang agar tidak mengganggu operasional stasiun. Pembangunan yang berjalan bersamaan dengan layanan angkutan menuntut pengaturan lalu lintas dan pejalan kaki yang cermat.
Tidak ada komentar
Posting Komentar