Darren Anderson, 43 tahun, divonis empat tahun penjara di Pengadilan Mahkota Nottingham atas penipuan, pencurian, dan menjalankan perusahaan saat berstatus dilarang. Kerugian korban melampaui 200.000 poundsterling, sementara pengadilan mencatat 41 pelanggaran kejujuran sejak 2002 memakai sejumlah nama palsu.
Seorang pria dari Gamston, Nottingham, divonis empat tahun penjara di Pengadilan Mahkota Nottingham pada Kamis, 24 September 2026, atas serangkaian tindak penipuan yang merugikan korban lebih dari 200.000 poundsterling. Darren Anderson, 43 tahun, terbukti bersalah atas penipuan, pencurian, dan tindakan menjalankan perusahaan ketika sedang berstatus dilarang menjadi direktur, dengan masa larangan baru selama 15 tahun menyusul vonis itu.
Kasus ini menonjol karena rentang waktunya yang panjang. Pengadilan mencatat tujuh vonis sebelumnya atas 41 pelanggaran kejujuran sejak 2002. Anderson pernah dipenjara pada 2011 karena penipuan dan dilarang menjadi direktur selama periode maksimum 15 tahun dengan nama Miles Prestland-Windsor, lalu kembali dihukum pada 2021 dengan nama Timothy Ahlbeck berupa hukuman percobaan karena penipuan dan pelanggaran larangan direktur.
Sepanjang 15 tahun terakhir, ia memakai sejumlah identitas untuk menyamarkan jejak kejahatannya, antara lain Lord Timothy Ahlbeck dan Adipati Ahlbeck ke-18. Investigasi menyebutkan ia pernah menjadi direktur lima perusahaan saat berstatus dilarang, dengan bidang usaha yang diklaim bergerak dari agen perjalanan, agen properti, sampai salon tata rias rambut.
Rangkaian kejahatan terbarunya berlangsung sepanjang 2022 dan 2023. Antara Februari dan Juni 2022, ia memakai data rekening bank sebuah perusahaan penagihan utang untuk membayar layanan bagi perusahaan yang dipimpinnya. Sebanyak 106 penarikan otomatis tanpa izin senilai 79.488 poundsterling dipakai untuk membiayai jasa penyimpanan, iklan, dan produk digital.
Pada Juli 2022, Anderson menyewa sebuah salon tata rias rambut di Ebbw Vale, Wales selatan, dengan kontrak lima tahun. Pada Oktober tahun yang sama ia berhenti mendatangi salon itu dan meninggalkan kewajiban sewa yang masih tersisa 57 bulan senilai lebih dari 46.000 poundsterling, ditambah perlengkapan salon senilai 15.000 poundsterling yang tidak pernah dibayar.
Seorang perempuan yang ia angkat menjadi manajer salon menjadi korban kebohongannya. Anderson menyatakan dirinya mantan dokter dan direktur dua belas salon yang sukses. Perempuan itu kemudian diberhentikan melalui pesan singkat, meninggalkan upah tak dibayar 600 poundsterling, dan bahkan sempat dituduh melakukan perampokan oleh Anderson.
Korbannya bukan hanya pelaku usaha. Sebuah organisasi media berita yang ia hubungi pada Januari 2023 untuk pemasangan iklan menandatangani kontrak senilai ribuan poundsterling namun tidak pernah dibayar. Dalam perkara terpisah dari Kepolisian Derbyshire, Anderson juga terbukti mencuri barang-barang dari properti yang ia sewa, dan barang curian itu ditemukan sedang dipakai menghiasi rumah barunya ketika polisi menangkapnya.
Kepala Penyidik Insolvency Service, David Snasdell, menyebut Anderson sebagai penipu kompulsif yang hanya dokter di dalam pikirannya sendiri. Ia menilai di balik sosok mirip tokoh Walter Mitty itu ada orang yang sama sekali tidak menghormati sistem kepailitan dan para krediturnya, bahkan menyembunyikan kejahatan dalam skala industri melalui berbagai identitas tanpa memikirkan jejak kerusakan yang ditinggalkan.
Insolvency Service menyatakan pola penggunaan perusahaan berulang untuk memudahkan penipuan dan merugikan kreditur memiliki ciri praktik phoenixism yang disalahgunakan, dan mereka tidak akan menoleransinya. Lembaga itu kini berupaya menyita dana yang diperoleh Anderson secara melawan hukum berdasarkan Undang-Undang Hasil Kejahatan 2002.
Kepala Inspektur Anna Woodhouse dari Kepolisian Derbyshire mengatakan Anderson sangat kurang ajar dalam mencuri barang dari properti yang disewanya di Derbyshire, karena barang yang dicuri persis ditemukan memenuhi rumah barunya. Ia berharap vonis itu membuat Anderson mengubah jalan hidupnya sekaligus menjadi peringatan bagi orang lain agar berjaga-jaga bila bersinggungan dengannya.
Cara kerjanya berulang di banyak korban. Ia memalsukan bukti pembayaran, memakai nama pegawai fiktif, dan memanfaatkan surat dari perusahaan West Midlands Paralegals Ltd yang ia pimpin saat berstatus dilarang untuk memberi kesan kredibel sekaligus menekan para kreditur. Pada Mei 2023 ia menghubungi sebuah perusahaan investasi properti dengan niat membeli sejumlah apartemen di Skotlandia dan menyewa pondok di Peak District, memakai bukti pembayaran palsu senilai 3.000 poundsterling untuk masuk, lalu tidak membayar sewa hingga meninggalkan utang lebih dari 27.000 poundsterling.
Setelah akhirnya meninggalkan pondok di Hathersage itu, ia justru mencuri perabot milik pemilik properti. Untuk membuat perusahaan perjalanan miliknya tampak sah, Anderson mengajukan akreditasi industri sambil menyembunyikan statusnya sebagai direktur yang dilarang, membuat pernyataan palsu dalam aplikasi, dan mengklaim keterkaitan dengan skema industri perjalanan yang diakui padahal tidak ada.
Ia juga menyerahkan laporan keuangan palsu ke Companies House. Zulu Travel Services Ltd tercatat memiliki aset bersih 1,3 juta poundsterling dengan lima pegawai, sementara The Holiday Travel Agent Ltd tercatat beraset bersih 255.000 poundsterling dengan rata-rata enam pegawai. Ia bahkan menciptakan jaringan pegawai dan manajer senior fiktif agar perusahaannya terlihat lebih besar dari kenyataan.
Perkiraan konservatif kerugian korban mencapai 205.455 poundsterling, dan Insolvency Service menyatakan kerugian tambahan 100.000 poundsterling bisa terjadi bila kasus ini tidak dihentikan. Sejumlah perusahaannya kemudian ditutup atas dasar kepentingan publik.
Sumber: West Bridgford Wire, ITV News, dan The Sun, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar