Tukar Vape dengan Materi Pelecehan Anak, Pria Australia Kembali Dipenjara

Tukar Vape dengan Materi Pelecehan Anak, Pria Australia Kembali Dipenjara

Dean Jason Milley, pria 53 tahun asal Longwarry, dipenjara setelah mengirim uang dan membelikan vape untuk anak lelaki 12 tahun di Australia Barat demi memperoleh materi pelecehan seksual anak.

Seorang pria asal Longwarry, Victoria, Australia, kembali dipenjara setelah tertangkap mengirim pesan kepada anak lelaki remaja secara daring dan menawarkan uang serta vape sebagai imbalan materi pelecehan seksual anak. Dean Jason Milley berusia 53 tahun ketika kejadian terakhir terungkap. Perkaranya disidangkan di Pengadilan Negeri Latrobe Valley.

Hakim Diana Manova mengungkapkan Milley membeli vape melalui platform daring Alibaba untuk seorang anak berusia 12 tahun yang berada di Australia Barat. Anak itu sebelumnya mengatakan kepada Milley bahwa usianya 14 tahun. Ketika Milley mengirimkan bukti pembelian vape, anak tersebut mengirimkan materi pelecehan seksual berupa gambar dirinya sendiri.

Hakim menilai percakapan yang berlangsung sangat bernuansa seksual dan bejat, dan menunjukkan keinginan terdakwa untuk bertemu serta melakukan tindakan seksual dengan anak-anak itu. Milley berkomunikasi dengan beberapa anak lelaki melalui sebuah situs web. Ia ditangkap setelah penyelidikan mengungkap rangkaian pesan tersebut.

Riwayat kriminal Milley tercatat sejak 1994. Dalam pertimbangan putusan, pengadilan mendengar bahwa ia tumbuh dalam keluarga religius dan pernah mengalami pelecehan seksual sebagai anak oleh tiga orang di lingkungannya. Hakim menyatakan terdakwa bersedia menimpakan jenis pelecehan yang sama kepada anak lain, sehingga dalam praktik mengulang apa yang pernah dialaminya.

Pada usia 21 tahun, Milley pernah diwajibkan melaporkan sesuatu terkait statusnya. Catatan itu menjadi bagian dari pertimbangan pengadilan karena menunjukkan bahwa ia sudah lama berurusan dengan sistem hukum. Hakim menilai riwayat panjang itu tidak mengurangi tanggung jawab atas perbuatan yang baru terbukti.

Vonis yang dijatuhkan mencakup masa hukuman penjara dengan kemungkinan pembebasan bersyarat dalam tiga tahun. Pengadilan juga mempertimbangkan pengakuan terdakwa dan kondisi kesehatannya. Kendati demikian, hakim menegaskan bahwa perbuatan yang menyasar anak tetap dinilai berat karena menimbulkan dampak jangka panjang bagi korban.

Kasus ini menambah deretan perkara serupa di Australia yang melibatkan pemanfaatan platform daring untuk menyasar anak. Pihak berwenang berulang kali mengingatkan bahwa perdagangan materi pelecehan anak tidak selalu berbentuk transaksi uang, tetapi juga bisa memakai imbalan barang seperti rokok elektrik, pulsa, atau gim daring.

Pengadilan menyebut materi yang diproduksi dan dikirim anak tersebut masuk kategori paling berat. Karena korban berada di negara bagian lain, penyidikan melibatkan kerja sama lintas yurisdiksi. Milley kini menjalani masa hukuman dan akan dievaluasi sebelum kemungkinan pembebasan bersyarat.

Modus yang digunakan memperlihatkan bahwa pelaku memanfaatkan barang sehari-hari sebagai alat pendekatan. Rokok elektrik yang dibeli secara daring menjadi umpan, sementara komunikasi berlangsung melalui platform yang tidak dirancang khusus untuk anak. Pola seperti ini menyulitkan pengawasan orang tua karena transaksi terjadi di ruang digital.

Penyidikan lintas negara bagian memperpanjang proses hukum. Korban dan pelaku berada di yurisdiksi berbeda, sehingga aparat harus berbagi bukti digital berupa riwayat percakapan dan bukti pembelian. Penelusuran jejak digital itu menjadi kunci pembuktian di persidangan.

Lembaga perlindungan anak menekankan pentingnya pendampingan bagi korban karena materi yang tersebar dapat terus beredar. Pemulihan psikologis anak dalam kasus semacam ini biasanya berlangsung panjang dan memerlukan dukungan keluarga serta tenaga profesional. Sementara itu, pengadilan menegaskan vonis dijatuhkan sebagai efek jera.

Hakim juga menyoroti bahwa pengalaman buruk yang dialami pelaku semasa kecil tidak dapat dijadikan pembenaran. Dalam pertimbangan putusan, pengadilan menyatakan terdakwa justru mengulang apa yang pernah menimpanya kepada anak lain. Pertimbangan itu menjadi bagian dari alasan mengapa hukuman penjara tetap dijatuhkan, bukan bentuk pemulihan di luar penjara.

Kasus ini juga menjadi pengingat bagi platform daring untuk memperketat verifikasi. Percakapan berlangsung di ruang publik digital yang seharusnya bisa diawasi, tetapi pelaku tetap menemukan celah. Regulator di Australia telah mendorong kewajiban bagi layanan digital untuk melaporkan konten berbahaya dan mempercepat penghapusan materi pelecehan anak.

Dalam sidang, pengadilan juga menimbang kerja sama terdakwa dengan penyidik dan kesiapannya menanggung konsekuensi. Meski ada pertimbangan meringankan, majelis menyatakan perbuatan menyasar anak berulang kali membuat hukuman penjara menjadi pilihan yang paling menggambarkan tingkat kesalahan dan kebutuhan memberi efek jera.

Sumber: ABC News Australia dan keterangan Pengadilan Negeri Latrobe Valley, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar